Showing posts with label Open Mind. Show all posts
Showing posts with label Open Mind. Show all posts

Tuesday, March 10, 2015

Sahabat Sejati

Sahabat sejati
Bukanlah dia yg slalu ada di sisi
Bukan pula yg slalu ada saat kamu butuhkan

Sahabat sejati
Tak selamanya dia yg slalu hadir di socmedmu
Sekedar basa-basi "haai apakabar sibuk apa" di dunia maya nan semu


Sahabat sejatimu bisa jadi adalah dia yang tak pernah muncul disisimu disaat kamu butuh
Lama tak bersua denganmu secara nyata
Karena berbagai hal yg tak terjangkau logikamu
Bisa pula dia yang tak pernah berinteraksi dengan berbagai sosial mediamu
Bisa jadi dia pun sedang sama sulitnya dgnmu, bahkan mungkin lebih susah keadaannya sehingga tak sampai hati turut membebani hatimu dgn berbagai masalah yang dipendamnya sendirian

Sahabat Sejati yang bisa jadi baru kau ketahui di JannahNya nanti...
Yang ternyata sering menyebut namamu... mendoakan kebaikan dan kebahagiaanmu dlm sujudnya, tanpa sepengetahuanmu...

Yang karena itulah doa2ny untukmu di-amin-kan oleh para malaikat yg menyaksikan...
Dan malaikatpun mendoakan kebaikan yg sama untuknya...

Sahabat yg saling terikat hatinya dgnmu karena kecintaan pada Rabb nya...
Indahnnya berprasangka baik...

Mari saling mendoakan kebaikan unt sahabat2 qt:)

Wednesday, February 05, 2014

Idealisme vs Peranan Sosial, Berdamai dengan Keadaan




LET IT GO - FROZEN

The snow glows white on the mountain tonight, not a footprint to be seen.
A kingdom of isolation and it looks like I'm the queen.
The wind is howling like this swirling storm inside.
Couldn't keep it in, Heaven knows I tried.

Don't let them in, don't let them see. Be the good girl you always have to be.
Conceal don't feel, don't let them know. Well, now they know! 
Let it go, let it go! Can't hold it back anymore.
Let it go, let it go! Turn away and slam the door.

I don't care what they're going to say.Let the storm rage on.
The cold never bothered me anyway.

It's funny how some distance, makes everything seem small.
And the fears that once controlled me, can't get to me at all 
It's time to see what I can do, to test the limits and break through.
No right, no wrong, no rules for me. I'm free!

Let it go, let it go. I am one with the wind and sky.
Let it go, let it go. You'll never see me cry
Here I stand, and here I'll stay. Let the storm rage on.
   
My power flurries through the air into the ground. My soul is spiraling in frozen fractals all around
And one thought crystallizes like an icy blast I'm never going back; the past is in the past!

Let it go, let it go. And I'll rise like the break of dawn.
Let it go, let it go That perfect girl is gone Here I stand, in the light of day.
Let the storm rage on! The cold never bothered me anyway

 ***

Mendengar lagu soundtrack film FROZEN yang satu ini, seolah mengingatkan tentang betapa kita kerap kali hidup dikelilingi berbagai peran sosial. Peran sebagai anak, peran sebagai manusia secara pribadi, dan berbagai macam peranan sosial lainnya. 

Gampanngnya, peran sosial ini identik dengan "tuntutan" yang diinginkan lingkungan terhadap seseorang. Misalnya, saat Anda sedang menjalankan profesi sebagai seorang dokter maka Anda harus bersikap selayaknya seorang dokter. Layak yang dimaksud seperti apa? Ya layak versi yang diinginkan lingkungan, misalnya: berwibawa, jaga image, baik, ramah, melayani konsultasi tanya jawab hingga puas, RUM (rational use of medicine), pro asi, dll... Padahal jika menilik lebih dalam ke lubuk hati, bisa saja sebenarnya bukan gaya seperti itu yang Anda sukai.

Sering dengar pernyataan seperti ini? "Masa dokter begitu" atau "Masa guru begitu" atau "masa...masa....masa begini begitu..." yg lain... Nah, ini terjadi jika perilaku Anda tidak sesuai dengan peranan sosial yang diinginkan atau tidak sesuai dengan yang umum terjadi di lingkungan.

Dalam kultur budaya Indonesia dimana peran otoritas orang tua masih sangat kental, sering kali seorang anak dituntut untuk bersikap "baik" sesuai keinginan orang tua. Atau bahkan untuk sebuah cita-cita pun, orang tua sangat besar porsi pengaruhnya. Seringkali belakangan membuat sang anak pada akhirnya menyadari bahwa kehidupannya tidak sesuai dengan kata hatinya, demi selama ini hanya berusaha menjadi “good boy” alias anak baik yang baik sesuai kemauan orangtuanya…

Tak jarang saya menemui kisah nyata mantan petinggi suatu perusahaan di usia pensiunnya hanya ingin dirumah, berkebun. Melakukan apa yang menjadi panggilan hatinya sejak lama namun tak bisa dilakukannya saat ia berada di puncak kesuksesan. Tentu saja kesuksesan yang pastinya membanggakan orang tua nya. Dan di akhir sisa usia produktifnya, apa yang menjadi passion nya itu baru dapat dilakukannya.

Memang dalam hidup ini banyak terjadi bentrok atau bahkan pertentangan yang cukup frontal antara idealism hati pribadi seseorang dengan peranan sosial yang melingkupi lingkungannya berada. Faktanya, kita tak dapat mungkin membahagiakan hati semua pihak (lingkungan dan diri sendiri sekaligus). Tetap ada “perasaan” yang dikorbankan. Kalau bukan perasaan orang lain yang dikorbankan, ya perasaan kita sendirilah yang harus kita kesampingkan sementara waktu. Bahkan mungkin juga kita terpaksa harus menggantukan sementara cita-cita hati kita karena satu dan berbagai hal.

Namun sebenarnya masih ada alternatif “berdamai” dengan lingkungan, terutama orang tua yang selama ini membesarkan dan mendidik kita sehingga bisa menjadi seperti kita yang sekarang ini. 

Berpulang pada prinsip: Ridho Alloh SWT adl Ridho nya orangtua, sebisa mungkin kita jg dapat menyukai apa yang orang tua harapkan, sehingga kalaupun kita akhirnya menjalankan segala ssesuatu, itu sudah atas restu orang tua. Terlalu frontal dan menentang dengan keras sama saja menjadi malin kundang jaman modern bukan? Selama hal itu baik dan banyak memberi manfaat, dan terutama, dapat membahagiakan orang tua kita, why not

Banyak dari kita pasti juga pernah mengalami kondisi  "test the limits and break through, and free!" seperti kebanyakan anak di dunia ini. Mau bebas melakukan apa yang disuka. Tapi ketika itu bertentangan dan bahkan membuat orang tua kecewa, rasanya tetap hampa juga di hati.... Bahkan rasanya malah lebih nyaman ketika kita melihat senyum bangga terpatri di wajah kedua orang tua kita

Terus, kapan jadi “diri sendiri” nya dong? Hey.. jangan lupa… setiap manusia dianugerahi kemampuan yang multidahsyat untuk menjalankan berbagai peranan sosial itu tadi. Dan kita semua punya cukup waktu yang sama, 24jam sehari! Jadi atur waktu sebaik-baiknya. Pasti bisa. Tetap jadi diri sendiri dan bahagia, tapi juga hidup di jalan yang diridhoi orang tua kita.. 

Sebelum menyesal dengan sangat terlambat ketika orang tua sudah tak ada di dunia, karena kita telah banyak membuatnya kecewa... Ketika rasa sesal dan kecewa itu muncul, orang tua kita sudah tak lagi dapat kita sentuh dan tak dapat lagi untuk bersimpuh di kakinya untuk meminta maaf...
 
Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani soghiroh..


*mendadak terasa sesak di dada*

In memoriam of my father... 3 feb 1960- 14 Jan 2013

 



 

Friday, June 07, 2013

Cinta itu Memberi - Gratis, & Memahami

Seseorang yg bisa dikatakan senior
menasehatiku panjang lebar tentang apa itu cinta.

Memberi - Gratis - Memahami

tiga kalimat itulah inti percakapan panjang lebar itu.

"Cinta itu memberi, Fir... tanpa pamrih [gratis]. Jangan pernah berharap
bahwa pasangan harus mengikuti apa yang kita mau. Jangan berharap
bahwa dia harus memenuhi kebutuhan kita..." begitu kira2 inti kata-katanya.

Esensi dari sebuah hubungan adalah memahami.
Jangan jadikan dia alat untuk memenuhi keinginan kita.
Misal, cemburu.

Ketika kita cemburu, kita tak ingin pasangan kita dekat dengan lawan jenisnya yang lain.
Selain kita.
Ketika kita tidak ingin dia dekat dengan orang lain selain kita, itu adalah kebutuhan kita.
Jangan paksa dia untuk memenuhi kebutuhan kita.
Jangan berharap dia berubah seperti yang kita mau.
Itu bukan hakikat sebuah hubungan....

Intinya berhubungan itu kan "Memahami"
"Cinta itu Gratis, Fir.... Cinta itu GRATIS!" ia menegaskan berkali-kali

kata-katanya terngiang-ngiang dikepalaku hingga detik ini

Ya..cinta memang gratis...
jangan pernah berharap apapun padanya...
Ikhlaskanlah... maka Allah SWT akan memberikan yang terbaik bagi kita :)

Kesempurnaan dalam Memahami

"Nggak ada manusia yg sempurna,
kita lah yg harus bersikap sempurna
dalam menghadapi setiap kekurangan orang lain..."


begitulah. salah satu statement yg akhir2 ini
slalu saja meluncur manis dari bibir seorang bidadari dunia,
bunda ku.... (^_^)

terkadang kita menilai kekurangan-kekurangan orang lain
maupun kekurangan-kekurangan diri kita sendiri
tak ada habisnya memang
karna itulah fitrahnya manusia

mau bagaimana lagi...
'lha wong udah bawaan orok'
gitu kali yah kasarnya ;p

Kejadian pahit di masa lampau
mengajariku banyak hal

mungkin awalnya aku merasa
dipaksa bersabar
dipaksa tuk ikhlas
dipaksa tuk selalu mencoba tuk memahami...
[yg memaksa -> keadaan]

tapi, akhirnya ku merasakan
betapa kesabaran, keihklasan, dan memahami,
memang berbuah manis
meskipun perjuangan kearah sana sangat panjang....
Paling tidak, buah manis itu berbentuk
sebuah ketenangan nurani

ikhlas
nothing to lose
'zero mind'

totalitas dalam bertindak
dan jangan pernah mengharapkan apapun!!!!



Bekasi, 15 oktober '08



Alhamdulillah...

Jgn m'harap rembulan bila ada sang bintang,
jgn meminta kebaikan bila ada ketulusan.
Syukurilah setiap hal yg telah qt miliki,
krn kunci syukur adl melihat apa yg tlah qt miliki,
bukan apa yg dimiliki org lain.

Sungguh tiada hal yg sempurna di dunia ini selain Allah SWT...
Wallahu'alam...

Sadar Nggak Sich Kita?

Kita lahir dengan dua mata di depan
wajah kita, karena kita tidak boleh selalu
melihat ke belakang.

Tapi pandanglah semua itu kedepan,
pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di
kanan dan di kiri, supaya kita bisa
mendengarkan semuanya dari dua
sisi.Untuk bisa mengumpulkan pujian dan
kritik dan menyeleksi mana yang benar
dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak
kepala kita. Sehingga tidak peduli
semiskin apapun kita, kita tetap
kaya.Karena tidak akan ada satu orang
pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran
kita dan ide kita. Dan apa yang anda
pikiran dalam otak anda jauh
lebih berharga dari pada emas dan
perhiasan.

Kita lahir dengan 2 mata, 2 telinga tapi
kita hanya diberi 1 buah mulut.Karena
mulut adalah senjata yang sangat tajam,
mulut bisa menyakiti,bisa membunuh,
bisa menggoda, dan banyak hal lainnya
yang tidak menyenangkan.

Sehingga ingatlah bicara sesedikit
mungkin tapi lihat dan
dengarlahsebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh
didalam tulang iga kita.Mengingatkan
kita pada penghargaan dan pemberian
cinta diharapkan berasal dari hati kita
yang paling dalam.

Belajar untuk mencintai dan menikmati
betapa kita dicintai tapi jangan pernah
mengharapkan orang lain untuk
mencintai kita seperti kita mencintai dia.

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan
kita akan menemukan cinta yang jauh
lebih indah.



nb: hasil ngubek-ngubek blog perdana-arsip2006
http://jaket-biru.blog.friendster.com/2006/06/

Memanusiakan Anak

Memanusiakan Anak


Oleh: Elfira Rosa Juningsih


Anak-anak bagaikan malaikat kecil. Mereka bisa membuat siapapun yang berada di dekatnya menjadi gembira. Keceriaan mereka adalah kebahagiaan kita. Mereka polos, naif, tak berdosa. Akan seperti apa mereka nantinya, kitalah yang berperan untuk mengarahkannya sejak dini.


Akhir-akhir ini kekerasan terhadap anak-anak semakin marak tejadi di sekitar kita. Menurut Ketua Komnas Anak, Seto Mulyadi, berdasarkan catatan Komnas Anak, kasus kekerasan terhadap anak pada 2004 mencapai 500 kasus, sementara pada 2005, mencapai 736 kasus, dan sampai Mei ini sudah tercatat 300 kasus. Kekerasan tersebut meliputi kekerasan fisik, psikologis, seksual, serta ekonomi.


Ibarat fenomena gunung es, angka tersebut tentunya jauh lebih kecil dibanding kasus real yang terjadi, karena tidak semua pihak yang mengalami kekerasan anak ini melaporkan kasusnya ke Komnas Anak. Budaya masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa mendidik anak adalah urusan pribadi orang tuanya, mengakibatkan “orang luar” yang mengetahui adanya kekerasan terhadap anak, sering kali merasa enggan mencampuri urusan keluarga tersebut. Dengan dalih untuk mendidik anak, orang tua sering merasa bertindak benar dengan menjewer, memukul, memaki, dan menghina anaknya.


Siti Ihtiatun Soleha (8). Gadis kecil warga Sunter (Jakarta Utara) yang biasa dipanggil Tia itu, dua kaki dan tangan kanannya telah disetrika oleh ayah kandungnya sendiri, Muhammad Juhandi alias Wandi (34). Bayangkan, anak sekecil itu disetrika. Jangankan anak kecil, kita pun jika tak sengaja terkena setrika panas akan merasakan sakit yang luar biasa. Tak hanya itu, Tia pun disundut dengan rokok, ditampar, di pukul dengan tali tambang jemuran.

Di Cilincing, Jakarta Utara, Eka, bocah perempuan berumur tujuh tahun, tewas dicekik ibu tirinya. Gadis mungil bernasib tragis itu menemui ajal akibat kekerasan di dalam rumahnya sendiri. Tak hanya dicekik, sebelum kematiannya, Eka diperkosa paman tirinya (Republika, 4 Januari 2006).

Kasus Raju, yang berawal dari perkelahian antar anak kecil dan sempat meramaikan media

massa

. Proses persidangan dan penyatuan tempat tahanan dengan orang dewasa (meskipun hanya beberapa jam), menuai kecaman dari berbagai pihak.

Peristiwa perkosaan di

Malang

- saat hari terakhir kampanye pemilu 1977- adalah contoh yang penting disimak. Pada saat orang- orang berkampanye keliling

kota

, empat pemuda justru “sambil menyelam minum air”. Mereka menggunakan sepeda motor, mencoba mengajak dua gadis SMP keliling

kota

. Sepulang kampenye, dua gadis yang diboncenginya, justru “diboncengi” hingga ke dalam kamar kost.

Ada

sembilan mahasiswa turut andil menjadikan dua gadis itu sebagai “piala bergilir”.

Kejadian di Jambi tak kalah sadis. Seorang ayah tiri membantai dua anaknya yang berusia sepuluh dan delapan tahun, hingga kepalanya lepas dari badan.

Peristiwa yang tak kalah kontroversial di Bekasi, seorang bapak kandung tega menjual anaknya (12) hanya senilai empat puluh ribu rupiah. Tragisnya, sebelum dijual, anak itu “digarap” dulu olehnya. Di depan mucikari, sang bapak dengan enteng mengatakan bahwa anak tersebut ketemu di jalan. Tidak lagi gadis, tapi juga bukan janda. Astaghfirullah!

Kasus terbaru terjadi di Tanggerang, gadis berumur 13 tahun diperkosa, digilir 13 pemuda. Selain itu, keluarga salah satu pelaku yang konon, keluarga TNI (aparat-red), mengancam korban dan keluarganya, dan memaksa agar tuntutan di kantor polisi dicabut (karena takut, keluarga korban bahkan tak segan-segan meminta perlindungan wartawan KOMPAS).

Kekerasan terhadap anak bisa dilakukan kapan pun ,dan oleh siapapun. Berdasarkan identifikasi kasus-kasusnya, KTA (kekerasan terhadap anak) terjadi dalam lingkup rumah tangga (domestic violence), kekerasan dalam komunitas (community violence), dan kekerasan yang berbasis pada kebijakan/tindakan negara (state violence). Dalam tahun 2005, KTA terjadi pada semua lokus: rumah tangga, komunitas, dan negara. Komunitas termasuk sekolah, lingkungan, dan tempat pendidikan anak. Dalam lokus kekerasan negara termasuk kekerasan yang diderita anak dalam situasi krisis, kerusuhan, konflik sosial, konflik militer, dan kebijakan dalam bencana alam tsunami (Republika, 13 Januari 2006).

Terry E. Lawson, psikiater internasional, menyebut ada empat macam abuse, yaitu emotional abuse, verbal abuse, physical abuse, dan sexual abuse.

Emotional abuse terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan pelindung anak setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, mengabaikan anak itu. Ibu yang membiarkan anaknya kelaparan karena tak mau diganggu, atau tak mau menyusui anaknya dengan ASI karena alasan kecantikan, mengabaikan kebutuhan anak untuk dipeluk dan dilindungi, bisa digolongkan dalam kategori ini.

Verbal abuse terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan pelindung anak, setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, menyuruh anak itu untuk diam atau jangan menangis. Hal ini sering tampak di sekitar kita, dimana orang tua menyuruh anak untuk diam dan jangan menangis, seringkali hal itu dilakukan dengan membentak. Tak jarang, makian itu ditambahi dengan kata-kata sepeti “cengeng”, “bodoh”, “nakal”, dan sebagainya.

Physical abuse, terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan pelindung anak memukul anak (ketika anak sebenarnya memerlukan perhatian).

Sexual abuse biasanya tidak terjadi selama delapan belas bulan pertama dalam kehidupan anak.


Anak Juga Manusia


Anak tak selayaknya menerima perlakuan kasar dari siapapun. Kekerasan yang dilakukan secara periodik akan diingat oleh mereka dan bisa menimbulkan trauma yang mendalam, bahkan juga gangguan psikologis.

Banyak orang tua mendidik anak dengan menggunakan kekerasan, agar anak disiplin. Namun tanpa mereka sadari, bukannya mengajarkan disiplin, mereka justru mengajarkan kekerasan pada anak mereka.

Pada dasarnya anak-anak adalah peniru ulung. Jika mereka selalu diperlakukan dengan kekerasan, maka suatu saat nanti jika mereka berhadapan dengan situasi yang sama, maka merekapun akan menggunakan kekerasan sebagai pemecahan masalah. Bagaikan “rantai setan” yang tak terputus, situasi ini akan terus berlangsung secara turun menurun. Setiap generasi akan melakukan hal yang sama untuk merespon kondisi yang menekannya. Hal ini terus berlangsung dan pada akhirnya menjadi budaya tersendiri, “budaya kekerasan.”

Dengan menerima perlakuan buruk dari lingkungannya, anak-anak bisa menjadi tidak percaya diri, menarik diri dari lingkungan, kepribadiannya tidak berkembang dengan baik, bahkan ia bisa menjadi pemberontak. Belum lagi, kemungkinan ia akan melakukan hal yang sama-kekerasan- kepada anaknya kelak

Banyak yang membedakan antara manusia dengan binatang. Parbedaan yang paling mendasar adalah pada otak, pikiran, akal budi.

Ada

pepatah yang mengatakan bahwa harimau tak akan memangsa anaknya sendiri. Dilihat dari kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di

Indonesia

, banyak orang tua justru “memakan” anak sendiri.

Kodrat manusia yang paling istimewa adalah potensi manusiawinya atau humanitasnya, yaitu kemampuan nalar dan kedalaman rohaninya. Manusia mengenal nilai-nilai. Manusia tak hanya membutuhkan makanan jasmani, tetapi juga rohani. Manusia yang tak membutuhkan makanan rohani, tak layak mengakui dirinya sebagai manusia. Manusia yang tak menyadari bahwa anaknya tidak hanya membutuhkan kasih sayang secara materi (makanan jasmani), tapi juga kasih sayang untuk makanan rohaninya, tidak layak disebut manusia!

Seorang anak adalah investasi masa depan. Ia akan tumbuh menjadi manusia utuh, manusia dewasa yang baik, jika dididik dengan benar dan penuh kasih sayang, bukannya dengan kekerasan dan kebrutalan.

Manusia bisa sangat sadis dalam melakukan kejahatan. Bahkan sering kali tidak merasa bersalah. Mutu manusia yang begitu rendah biasanya berawal dari nafsu ataupun kebencian. Kebencian itu lama kelamaan menjadi dendam kesumat. Ibarat pohon, kebencian yang ditanam sedemikian lama akan tumbuh menjadi pohon besar yang kuat, dan ketika tumbang, akan meluluhlantahkan yang dibencinya itu.




Anak Bukan Milik Orang Tua


Anak akan tumbuh sesuai didikan. Kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang sering terjadi, seringkali mengorbankan masa depan anak. Tidak hanya itu, dengan merusak masa depan anak, berarti kita telah merusak masa depan bangsa. Dengan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, maka kita akan membangun fondasi masa depan bangsa untuk mencetak manusia-manusia unggul di masa depan.

Sejak dini, anak harus diajarkan pendidikan “sex” (yang masih dianggap tabu oleh sebagian besar orang tua) agar tak terjerumus dan agar tak menjadi korban pelecehan seksual. Bangun keterbukaan dengan anak. Jadilah tempat mereka mencurahkan isi hatinya. Ajarkan anak agar tak mudah percaya dengan orang lain. Tanamkan nilai-nilai kebenaran pada anak dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. Beri tahu mana yang benar, mana yang salah. Ajari anak berkata “tidak” dan membela diri jika memang ia benar.

Keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, bukan menjadi momok. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan saling mengasihi satu sama lain.

Anak tak pernah ingin dilahirkan. Mereka lahir ke dunia ini sebagai buah cinta kedua orang tuanya. Sudah sepantasnya kita mengasihi dan menyayangi mereka, dan mendidiknya dengan baik, bukannya malah “menghancurkan” mereka.

Anak bukanlah milik orang tua, melainkan titipan Sang Pencipta. Perlakukan anak sebagai manusia utuh. Hingga nanti, saat titipan itu diminta kembali oleh Sang Pencipta, kita dapat “menyerahkannya” dengan bangga dan tersenyum, bahwa titipan itu telah menjadi manusia unggul, baik jasmani maupun rohani.


Met Hari Anak, sori Telat ;p (niatnya mo di revisi dulu, tapi tnyt mood gw gak ngedukung.. jadi gini aja dech ;p)



NOTE:
diambil dari arsip blog milik sendiri
http://jaket-biru.blog.friendster.com/2006/07/

postingan tahun 2006, smoga masih relevan dibaca di 2009 :p

Belajar dari Orang Kecil

Orang kecil hanya peduli pada hal-hal kecil sehari-hari. Orang kecil peduli
pada bagaimana menghidupi keluarga sehari-hari.


Orang kecil juga lebih banyak diam daripada bicara. Berdiam diri tanpa
mengomentari kelakuan orang lain, terutama yang jelek-jelek. Orang
kecil hanya mau bicara soal yang baik-baik saja. Ia merasa kecil,
tidak penting dan tidak istimewa. Ia merasa tidak berhak dan tidak
mampu menilai. Ia hanya mampu memendam kekecewaan dan ketidaksenangan
dalam dirinya sendiri.
Orang lain boleh saja berbuat tidak benar, tetapi saya harus
bertindak benar.


Menjadi orang kecil itu seperti kelinci, yang puas dengan tersedianya rumput
di sekitar hidupnya. Makan juga tidak berlebihan, baik takaran maupun
kualitasnya. Ia bahagia dengan kekecilannya, ketidakpentingannya.
Hal-hal kecil sudah cukup membuatnya bahagia. Misalnya mendapat
kelebihan uang belanja di akhir bulan.


Tidak penting dan tidak tercatat itulah dasar hidup orang kecil. Tidak
risau karena tidak kaya. Tidak risau karena tidak pegang kekuasaan
apapun. Tidak risau karena dianggap orang bodoh. Orang kecil hanya
risau kalau berbuat “tidak baik dan tidak benar”. Orang kecil itu
amat peka terhadap moralitas. Bau kejahatan sekecil apapun akan
tercium. Orang kecil adalah barometer moral yang paling peka. Dan
moralitas inilah hal yang mereka pentingkan dalam hidup. Cita-cita
hidupnya hanya menjadi orang biasa sebaik mungkin. Menghindari
kesalahan. Pantang melanggar aturan apa pun.


Orang kecil amat peka pula pada kehidupan akhirat. Hidup
harus lurus, bersih, sederhana, tidak “neko-neko”, jujur
seadanya,
tidak punya mimpi tinggi, semua itu dipegang agar
kelak selamat.
Orang kecil rata-rata amat religius. Dunia
ini persiapan untuk akhirat.


Orang kecil hidupnya tenang. Mereka tidak punya ambisi mengubah masyarakat,
mengubah dunia, mengubah orang lain. Mereka menerima kenyataan
seperti apa adanya.Mereka menerima akibat perbuatan dari orang-orang
besar.


Orang kecil hidup tenang, damai, tenteram menerima dan relatif bahagia.

Kedamaian hidup itu juga dapat dimiliki oleh orang-orang besar, jika saja
mereka tidak dibelenggu oleh kekayaan, kepangkatan dan ketenaran
hidupnya. Orang yang termahsyur oleh kecerdasannya juga dapat hidup tenang kalau
bersikap sederhana seperti orang kecil.


Orang-orang besar itu hanya sementara. Kekayaan itu sementara. Begitu pula
pangkat dan keterkenalan. Semua akan lewat dan tak bisa dimiliki
terus-menerus. Kalau sikap orang-orang besar dan orang-orang penting
ini tidak peduli terhadap kesementaraan kepemilikannnya, maka mereka
akan terbebas dari belenggu ketidakbahagiaan.


Orang besar yang bersikap seperti orang kecil inilah yang langka.
Kebanyakan orang besar memang bersikap seperti layaknya orang besar.
Bahkan ada orang-orang tak besar bersikap sok besar. Inilah godaan
duniawi yang serba nisbi dan sementara itu. Maka
belajarlah dari orang kecil. Jadilah orang besar yang bersikap
seperti orang kecil.



Dikutip dari buku:
-Menjadi Manusia- ,
karya Jakob Sumardjo

Kenapa Bertahan?

Sedang dilanda kebosanan yg teramat sangat, dan demovitasi tingkat tinggi. klo lagi gini biasanya enak nanya2 ke orang2 sekitar. syp tau bisa dpt suntikan motivasi. berikut intisari chat dgn teman kantor pagi ini:

saya: mbak, bosen nggak sih dgn rutinitas ky gini, bertaun2 brangkat pagi pulang menjelang magrib.

si mbak: bosen lahhhhhhhhhhhhhhh

saya: trus, apa yg membuat mbak masih tetap bertahan ? [stelah 4taun kerja gini2 aja & dah bosen akut tampaknya]

[pertanyaan nya ga dijawab2 sampe bbrp jam kmudian sy nanya lg baru dijawab]

si mbak: KEBUTUHAN

*jawaban yg singkat jelas dan padat dan CUKUP* hehe :p



siang ini ketemu OB kantor yg orangnya ramah, baik, supel, en slalu smangat. jualan, nawarin jus alpukat [identitas dirahasiakan aja y]

saya: pakabar mas?

si mas: baik [sambil nyengir lebar khas dia bgt]

saya: koq kayaknya semangat terus, apa sih rahasianya?

si mas: harus semangat dooong.... buat makan besokkkkk harus SEMANGAT [kalimat semangatnya diakhiri dgn penekanan dan antusiame tinggi sambil berlalu meninggalkan saya yg udah bayar lunas itu jus alpukat]

*dan saya pun bengong dan mikir. luarrrr biasaaaaa*



Hmhh..lumayan..bertanya pada orang lain memang slalu menambah suntikan motivasi.

Nah, bagaimana dengan anda? Apa yg membuat anda tetap semangat dan bertahan [meskipun ditengah rutinitas yg membosankan] ???

sharing yuuukkk.... (^_^)

Jangan Menangis CINTA...

....................................................................
Mungkin saja rutinitas kita sehari-hari
Menenggelamkan makna ini
ROMANTIS

Dan selalu saja
Istri begitu pandai menyimpan perasaannya
Menyembunyikan semua itu
Menyembunyikan rasa
Karena melihat wajahmu yang keletihan selepas pulang kerja..

Atau barangkali, istrimu tak tega menambah beban dalam pundakmu..

Tapi ini tak baik…
Tak boleh ada yang di pendam terlalu lama
Karena ia akan menjadi gumpalan rasa, yang melunturkan cinta

Dan Istri hanya mampu berlari
Dengan air mata sebagai bahasa jiwanya
Menangis
Iya hanya mampu MENANGIS…

Disinilah sabda nabi saw,menemukan pembuktiannya
“Sebaik-baiknya Lelaki, adalah yang paling baik terhadap Istrinya”

Suami, semenjak akad di deklarasikan
Harus mampu menjaga cinta di langit istrinya
Agar selalu bersinar dan tak redup….

Memang engkau lelah selepas sampai rumah
Tapi mengucapkan Terima kasih, ketika istrimu menuangkan minum, adalah upaya penumbuhan cinta..

Engkau memang letih, tapi bangun di 1/3 malam, sambil memijat kaki istrimu, sambil berkata
“sholat yuk..”
Adalah upaya menggelorakan Cinta.

Engkau memang lelah, tapi mencuci bajumu di ahad pagi, atau mengantar ke pasar….
Adalah Upaya menjaga Cinta..

Engkau memang sibuk, tapi sekedar sms, atau menelepon di kala istirahat makan siang
Adalah kunci melanggengkan hubungan

Tapi itu semua selama ini
Tertutup Kabut ketidak peduliaan….

Hingga komunikasi hanya ada
Dikala masalah menghantam dirimu dan istrimu…

Hingga komunikasi hanya ada
Dikala semua sudah terlambat…

Sahabat
Jika dirimu seorang suami…
Maka selepas pulang kerja ini
Tataplah bening mata istrimu
Lalu katakan
“Cinta…mau ice cream..?
Sambil tersenyum dengan manis, walau letih merasuki tubuh

Dan jika engkau seorang istri
Sambutlah suamimu
Dengan senyum
Dengan tatapan cinta
Lalu katakan
“Iya sayang…..
Nanti, kalau sudah mandi, kita keluar ya …
Ummi, mau makan baso di simpang jalan itu…”
Sambil memegang jemari suamimu….

Maka Alloh pun
Dengan Ke Maha Kuasa anNya…….
Akan menyusupkan cinta di hatimu dan hati istrimu….

Agar tak ada lagi Istri yang menangis
Di kala suami tak peduli

Agar tak kita lihat lagi
Angka Perceraian yang merangkak naik……

by: Hamzah Al Mubarok

Wednesday, July 14, 2010

Every Man Has a Price



Menduduki jabatan tertinggi sebuah divisi dalam satu perusahaan, dimana sering berhubungan dengan provider luar yang berkepentingan memasarkan produknya. Sebagai pemegang jabatan tertinggi, Anda selalu mendapat tawaran bertubi-tubi dari “kanan-kiri” agar produknya bisa masuk ke perusahaan tempat Anda bekerja. Sementara Anda tahu betul sebenarnya produk tersebut nggak bagus-bagus amat. Bahkan mungkin tak layak untuk standar perusahaan Anda. Tak hanya derasnya lobi-lobi yang menghujani Anda, dari mulai sogokan bahkan fitnah pun melanda.

***

Anda seorang praktisi HR dalam sebuah perusahaan. Menerima tawaran training dari pihak luar, dengan harga yang dapat dikatakan cukup “tinggi”. Dengan segala cara, marketing provider training external melobi Anda untuk mengirimkan wakil perusahaan sebanyak-banyaknya supaya mengikuti training tersebut. Ujung-ujungnya, Anda ditawari “bagi hasil” jika perusahaan Anda berkenan mengirim orang sejumlah tertentu.

***

Dua contoh kasus diatas hanyalah segelintir kecil profesi yang rentan dengan penerimaan-penerimaan yang tak wajar. Dalam dunia kerja dan bisnis, pihak yang berpromosi akan melakukan segala cara agar targetnya tercapai. Tak heran, banyak trik “belakang” yang dijalankan.

Sebagai manusia, tentunya tingkatan integritas pribadi yang dimiliki setiap orang, berbeda kadarnya. Tak peduli kita ada dalam perusahaan mana, tak peduli kita berada di lingkungan seperti apa, hal-hal semacam ini akan disikapi secara beragam pula.

Ada yang sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip “anti KKN” yang digaungkan perusahaan tempatnya bekerja, atau ada juga yang kuat integritas pribadinya dan mempertahankan hal itu. Namun jangan salah, banyak juga yang meskipun bisa bertahan dalam banyak tawaran yang datang padanya, ketika “timing” nya kebetulan sedang butuh-butuhnya, mungkin saja ia goyah dan tak mampu lagi bertahan.

Ketika lingkungan tak lagi mendukung “pertahanan diri” kita, ketika segala penjuru semakin deras berusaha menghancurkan “harga diri & integritas pribadi” kita, ketika keadaan – kehidupan nyata – kebutuhan – dengan tiba-tiba sangat mendesak kita untuk berbuat sesuatu yang sangat kita yakini ketidakbenarannya dari segala sisi (baik prinsip hidup maupun keimanan yang kita yakini), satu hal yang dapat kita pegang teguh yakni keyakinan kita akan keberadaan Sang Khalik yang senantiasa mengetahui sekecil apapun yang kita lakukan.

Hukum buatan manusia bisa saja tak menangkap kecurangan kita, sistem perusahaan sangat mungkin lengah dan bahkan memfasilitasi kita dengan kekuasaan penuh untuk berbuat curang sekalipun, lingkungan bisa saja bersikap “tahu-sama tahu” dan membenarkan hal yang seperti itu, namun jangan pernah lupa, hidup di dunia hanyalah sementara 

Cengkareng, 14 Juni 2010

Wednesday, March 11, 2009

Ternyata aircraft itu...

Baru dua hari masuk kelas training aircraft familiriarization (baca:FAM), kpala rasanya mau pecah [hehe lebay sih] ;p Koq ribet banget yah dalemnya pesawat. Cerdas bgt yg bikin teknologi ini. Hmh... Seorang rekan kantor yg dulunya lulusan STM Penerbangan berkata "Fir, materi FAM di buku ini, rangkuman apa yg gw pelajarin 3tahun dulu di STM!" Haha..masa siyh? parah juga ternyata... 

Bayangkan, peserta FAM ini adalah new comer dlm dunia perpesawaterbangan [ini bahasanya asal ginih]. Background pendidikan yg bener2 jauh dari yg namanya teknik-apalagi tentang pesawat...

Di kelas ini, yg diajarin apah..? Mari kita simak...
Intinya,kita blajar tentang smua-smua yg berhubungan sama pesawat civil comersil yg masih paling banyak dipakai industri penerbangan, yakni Boeing 737 classic [seri 737-300, 737-400,737-500]. Blajar ttg control cabin/ flight compartment, lighting, engine, starting engine, fuselage, electronic equipment, lifting, jacking, towing, powerplant danger areas, lubrications, electrical power, pneumatic&air conditioning,dll... [itu baru yg 2hari ini.masih ada 3hari kedepan & masih banyak materi yg laiiinnnn....]

Namanya bacground peserta jauh dari pesawat, pertanyaan2 yg muncul jg lucu2.., diantaranya:
"Yang disebut engine 1 itu yg mana, yg engine 2 itu yg mana?" dan dengan bijak sang trainer menjawab "kalau menghitung apapun yg ada di pesawat, biasakan dari arah KIRI pesawat.jadi kita harus searah/seposisi dgn pesawatnya. So,engine 1 adalah yg sebelah kiri pesawat"

Eh,lanjut lagi "trus klo starting engine, yg mana dulu yg dinyalain? kiri/kanan?" si trainer yg harus super sabar pun menjawab "biasanya pesawat normal engine 2 dulu yg nyala. karna apa? karna engine 2 ada di sebelah kanan, bagian servicing/crew smua ada di kanan, termasuk lavatory,dkk. jadi kondisinya dibikin save buat penumpang,karna bagian penumpang smua di sebelah kiri [termasuk pintu masuk n pintu darurat penumpang, smua di kiri]"

Bagian yg seru lagi, ktika bahas structure pesawat. Ngomongin horizontal n vertical stabilizer. Cuma ngomongin belok kanan-kiri, naik turun, miring ini itu, antara pesawat n arah stabilizerrnya, bahkan untuk nebak 'klo idung pesawat mengarah ke kiri ([engen belok kiri) maka vertical stabilizer mengarah kemana?" aja lamaaa bgt diskusi n tebak-tebakannya. Haha..kocak skaliy kelas ini... :D ->jawabannya ya ke kiri juga;p

Meskipun ngantuk, tapi seruuuu... logika-logika yg sulit dan penuh filosofi... Sampe diajarin pula urutan starting engine: Nyalain APU [auxiliarate power unit] - APU bwt starting engine 2 - engine 2 udah nyala, matiin APU - trus Engine 2 yg udh nyala,buat cross blade start unt nge-starting engine 1] - yeah lumayan kali aja bisa gantiin co-pilot starting pesawat.hihihhh ;p ...

Dan salah satu kata2 sang trainer yg bikin merinding adalah:
"Jangan salah, siapapun yg bekerja dalam industri maintenance pesawat ini, turut berkontribusi terhadap safety / keamanan setiap pesawat yg kita maintain.. meskipun anda tidak menyadarinya.." -> Halah pak...tambah berat aje... 

Merinding deh, mretelin filosofinya pesawat, sama aja seperti membuka mata bahwa ketika kita naik pesawat,pada dasarnya kita siap untuk 'meledak diudara, jatuh, menghilang tanpa jejak, dll' yg ada jadi tambah takut naik pesawat... :D

Hmh...tapi don't worry jg, sistem dipesawat dibuat fail backup ny sampai 3. Power engine yg 1 mati, masih bisa pakai 1engine yg lain.klo smua engine mati, turunin ketinggian pesawat ke 10.000kaki n then APU bisa dijadikan power. Klo APU mati jg, apa yah? ohya, ada Batre ny jg dipesawat [kebayang yah gede ny segimana itu batre?:D ]
Yah..indistru high risk, high cost, n need high competence especially for maintenance engineer nya...


Friday, December 26, 2008

Menemukan Wilayah Sukses

Menemukan Wilayah Sukses Tuesday, 23 December 2008 (Sindo) oleh: Habiburrahman El Shirazy (Penulis Novel Ayat Ayat Cinta)

Ini sepenggal kisah menarik dari salah satu ilmuwan besar abad ke-20,namanya Paul Adrien Maurice Dirac.Dunia mengenalnya sebagai fisikawan Inggris yang dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisika 1933 bersama Erwin Schrödinger.

Paul Dirac yang lahir di Bristol pada 1902 dikenal sebagai pembangun matematika teori mekanik kuantum—efek fisik bagian terkecil atom.Dirac menyelesaikan pendidikan dasarnya bukan pada bidang matematika, tetapi teknik elektro. Meskipun mendapat peringkat sangat bagus di kelasnya,dia merasa tidak begitu bagus dalam bidang tersebut. Bahkan guru-gurunya, sebagaimana ditulis oleh JG Crowther dalam biografi Dirac, sama sekali tidak menganggapnya sebagai seorang jenius.

Akhirnya dia pindah bidang dan wilayah yang lebih sesuai dengan jiwanya.Sejarah mencatat, dia mengambil keputusan yang tepat. Setelah masuk jurusan matematika di Boston University dan melanjutkan ke St.John’s College,Cambridge, Dirac dapat membuktikan bahwa dirinya memiliki kekuatan intelektual luar biasa.

Pada usia 24 tahun, Dirac menyelesaikan PhD-nya dari Universitas Cambridge. Di bidang matematika, Dirac menemukan bakat dan wilayah suksesnya.Keberhasi lannya sebagai ahli matematika fisika sangatlah hebat.Setelah membawa makalah pertama Werner Heisenberg mengenai mekanika kuantum pada 1925, Dirac segera merancang teori yang lebih umum dan pada tahun berikutnya merumuskan kaidah ekslusi Wolfgang Pauli menurut prinsip mekanika kuantum.

Dia mempelajari perilaku statistik partikel yang memenuhi asas Pauli,seperti elektron. Hal itu juga dipelajari secara independen oleh Enrico Fermi beberapa waktu sebelumnya. Hasilnya disebut statistik Fermi-Dirac untuk menghormati mereka berdua. Pada tahun 1928, Dirac memublikasikan teori “angka p-q”, sebuah “teknik matematika yang sangat murni dan elegan”.
Pada kajiannya,Dirac begitu teliti mempelajari gabungan teori relativitas khusus dan teori kuantum sehingga menghasilkan teori elektron yang memungkinkan penjelasan spin dan momen magnetik elektron serta meramalkan keberadaan elektron yang bermuatan positif (positron).Partikel itu kemudian ditemukan CD Anderson dari Amerika Serikat pada 1932. Pada tahun 1930, Dirac memublikasikan bukunya tentang mekanika kuantum, yang segera menyedot perhatian para ilmuwan.

Pada tahun 1930, ketika belum sampai berumur 30 tahun, Dirac diangkat menjadi guru besar di Cambridge dengan gelar Lucasian Professor of Mathematics, sebuah jabatan yang pernah diduduki Isaac Newton.Dan ketika ia menerima Hadiah Nobel pada tahun 1933, namanya semakin kokoh sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh pada abad ke-20. Yang menarik dari kisah hidup Dirac, menurut saya, adalah keputusan Dirac untuk tidak berhenti begitu saja setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya di bidang teknik elektro.

Dia mungkin saja bisa sukses di bidang itu,tapi ia merasa itu bukan wilayah terbaiknya.Dia memenuhi panggilan terkuat dari minat dan bakatnya yaitu matematika. Dia bekerja keras dalam bidang yang diminatinya itu, dan dia berkembang dengan pesat. Dirac bahkan mampu melahirkan kecerdasan inovatif yang mengagumkan dalam bidang yang dicintainya itu. Sebagaimana Dirac, banyak sekali di dunia ini orang-orang yang sukses karena berani mengambil keputusan untuk masuk dalam wilayah yang paling sesuai dengan jiwa dan minatnya.

Orang-orang yang mampu menemukan wilayah suksesnya sendiri,tanpa ikut-ikutan orang lain. Pada bidang yang lain, di negeri ini, Taufiq Ismail adalah sastrawan besar yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Seorang Taufiq Ismail,kini dikenal sebagai sastrawan terkemuka yang berhasil karena keberaniannya untuk hidup dalam bidang yang paling diminati dan dicintainya yaitu sastra.Taufiq Ismail menyelesaikan pendidikannya sebagai dokter hewan. Namun dia merasa bukan di situ wilayah terbaiknya untuk sukses.Dia berpindah untuk menekuni sastra.

Dan dia berhasil.Dia dikenal sebagai seorang sastrawan besar yang namanya akan terus dikenang dalam sejarah sastra Indonesia. Seandainya Taufiq Ismail berhenti mencari wilayah terbaiknya untuk sukses, Ind o - nesia kemungkinan besar tidak akan pernah mendengarkan lagu-lagu penyejuk kalbu yang indah seperti Aisyah Adinda Kita, Sajadah Panjang, dan sebagainya.

Juga tidak akan mendengar puisi-puisi berjiwa dalam Tirani dan Benteng. Pada hari Sabtu kemarin, 20 Desember 2008, saya berjumpa dengan Deddy Mizwar dalam acara Festival Budaya Islamyang diadakan Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Kami hadir untuk duduk bersama sebagai pembicara dalam seminar budaya.Yang menarik untuk saya catat adalah ternyata seorang Deddy Mizwar dulu pernah menjadi PNS, alias pegawai negeri sipil. Dia merasa tidak nyaman menjadi PNS. Dia merasa bukan sebagai PNS wilayah sukses terbaiknya. Akhirnya, dia keluar.

Dia menemukan jiwanya sebagai seorang aktor dan seniman.Dia berhasil. Deddy Mizwar, saat itu berseloroh pada saya,“Seandainya tidak mengambil keputusan keluar jadi PNS,mungkin saya sudah jadi seorang lurah di suatu daerah ha ha ha.” Lain lagi dengan John Grisham.Awalnya dia berkarier di bidang hukum. Hampir setiap hari, dia berada di ruang sidang.

Dia banyak menghabiskan waktunya untuk menangani banyak kasus dan menyaksikan para pengacara tangguh memperdebatkan kasus mereka. Suatu ketika Grisham mengikuti sebuah kasus yang menginspirasikan dirinya untuk menulisnya dalam sebuah cerita. Dia pun coba-coba membuat novel.Novel itu ia beri judul Deathknell. Ia tawarkan ke beberapa penerbit, tapi ditolak. Sampai akhirnya pada Juni 1989, ada sebuah penerbit yang bersedia menerbitkannya dalam oplah yang sangat kecil untuk ukuran Amerika,hanya 5.000 eksemplar.

Penerbit itu mengubah judul novelnya menjadi A Time to Kill. Novel A Time to Kill itu, tidak bisa dikatakan sukses. Grisham sendiri mengakui dengan mengatakan,“ Buku itu terjual baik dalam radius seratus mil di sekitar rumah, tapi di luar itu tidak ada yang menghiraukan.” Namun begitu, Grisham merasa telah menemukan wilayah yang sesuai dengan minatnya, wilayah terbaiknya untuk sukses. Meskipun novel pertamanya tidak dihiraukan orang,ia berani mengambil keputusan keluar dari tempatnya bekerja untuk fokus menulis novel.

Tak lama setelah itu,ia berhasil menyelesaikan novel keduanya The Firm. Novel keduanya The Firm,sukses besar. Bahkan, memecahkan rekor, selama 77 minggu berturut-turut selalu menduduki posisi atas dalam daftar best seller dunia. Sejak itu karyanya terus mengalir, dan hampir semuanya best sellerdunia. Bahkan, A Time to Kill pun kemudian termasuk novel paling diminati di dunia.

Sebagaimana Paul Dirac,Taufiq Ismail, Deddy Mizwar, dan John Grisham, sesungguhnya setiap orang memiliki wilayahnya sendiri-sendiri untuk sukses,tempat di mana dia bisa menjadi hebat. Jika seseorang belum sukses di suatu bidang, mungkin itu bukan bidang terbaiknya. Perlu tambahan ikhtiar dan keberanian mencari bidang terbaik untuk sukses.

Dan itu memerlukan keteguhan dan kekuatan prinsip untuk tidak ikut-ikutan orang lain.Karena bisa jadi wilayah sukses orang itu berbeda-beda. Saat ini jika kita lihat di sekeliling kita, budaya me too,atau budaya ikut-ikutan begitu menjamur di negeri kita. Beberapa waktu yang lalu sangat populer adanya orang sukses berbisnis tanaman hias seperti gelombang cinta dan sebagainya.Lalu orang berbondong-bondong ikut. Dan terbukti yang ikut-ikutan banyak yang rugi. Sekarang ketika kran demokrasi benarbenar dibuka, banyak yang berbondongbondong ikut-ikutan pilkada.

Bahkan, di sebuah daerah di Jawa Timur ada orang yang sudah sukses dengan usahanya,lalu ia ikut mencalonkan diri dalam sebuah pilkada. Dia kalah. Dia rugi miliaran rupiah, bahkan utangnya menumpuk. Dia stres dan bunuh diri. Nau`dzubillah min dzalik. Sekarang ini jika kita berjalan ke mana saja, ribuan wajah tidak kita kenal nampang di pinggir-pinggir jalan. Mereka mengiklankan diri untuk dipilih sebagai anggota DPR atau DPRD. Sebagian mereka sudah ada yang sukses di bidangnya,sebagian lagi ada yang coba-coba.

Sebagian ada yang benar-benar punya kemampuan dan kredibilitas untuk dipilih sebagai wakil rakyat, sebagian lagi ada yang memimpin rumah tangganya saja tidak becus.Ada yang merasa terjun dalam dunia politik adalah jiwanya, tidak sedikit yang ikutikutan. Jika bangsa ini ingin maju dan jaya,haruslah dimulai dengan mengokohkan jati diri bangsa dan rakyatnya.
Di antaranya, dengan membuang jauh-jauh budaya ikutikutan. Bangsa-bangsa besar adalah bangsa yang memiliki national building yang jelas, kokoh,dan kuat.Sekali lagi bukan ikutikutan, sebab yang cocok untuk bangsa lain belum tentu cocok untuk bangsa kita. Wallahu a`lam.

Salatiga,22 Desember 2009