Saturday, July 05, 2008

Manusia Biasa

Mengapa?? Karena Dia Manusia Biasa
by Ugik Madyo

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan
yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban
duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu jawaban yang
sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap
detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah.
Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2
bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam
waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran.
Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama
seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat
berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya
sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak
menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya
berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya
menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses
pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau,
kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu
suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini.
Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya).
Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia
telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali
saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya.
That's all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa
ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi,
sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang
banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang
ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa
kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini.
"Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur."
"Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu
hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal,
tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat
jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar
saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama
ini saya pendam.
"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci
meja riasnya.
Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.
Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada
saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop
surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya
memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas
dideretan paling atas.
"Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai
membacanya.
Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi
surat itu.
    Kepada YTH
    Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon
    kakak buat adik-adik saya
    Di tempat
    Assalamu'alaikum Wr Wb
    Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
    hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
    mohon, bacalah dulu sampai selesai.
    Saya, yang bernama ...... menginginkan anda untuk menjadi istri saya. Saya
    bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya
    pekerjaan.
    Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi
    yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan
    istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah.
    Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti,
    saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan
    dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak
    kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi
    saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya
    hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja.
    Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan
    merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita
    nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh
    saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah
    yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu
    kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan
    saya semakin mantap memilih anda.
    Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya
    menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya
    tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin
    menjadi lebih baik dari saat ini.
    Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya
    kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan
    jalan yang kita tempuh ini. Amin
    Wassalamu'alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat 'lamaran'
yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis.
Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga.
Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat disamping
saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
"Kenapa kamu memilih dia."
"Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku
tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.
Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."
"Maksudnya?"
"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih
ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau
suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."
"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga.
Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling
berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. "Udah
tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama." Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.
"Gik..."
"Tidur. Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu.
Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang
mengatur segala kehidupannya.
Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
ditiupkan dalam rahim.
Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya
kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban
tapi sebuah 'proses usaha'.
Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan
'nama'.
Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan.
Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan
yang utama.
Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.
Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua
menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.
Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu
menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah.
Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua
yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.
Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.
Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar
cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan
yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau
diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan
jiwa).
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

Friday, July 04, 2008

Yang Berilmu Lebih Utama dari pada Yang Ahli Ibadah?


Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim (orang berilmu) atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”

(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Kenapa Harus Berteriak?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya,

“Mengapa ketika seseorang sedang marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”


Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab,

“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”


”Tapi...” sang guru balik bertanya, ”lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tidak dapat berbicara secara halus?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata,


”Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara dua hati mereka menjadi amat jauh walaupun secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu, mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”


Sang guru masih melanjutkan,

”Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara, suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkan dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.


”Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya, sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru masih melanjutkan,


”Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin disaat itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”


(sumber:e-book motivasi)

Kertas Putih Hati Kita

"Past is a history, Next is a mistery, but today is A GIFT"


Masa lalu, seperih apapun
Tetap telah mengajarkan banyak hal
Bukankah guru yang paling berharga adalah pengalaman?

Hati ibarat kertas kosong nan putih bersih
Polos...
Banyak yang datang dan pergi dalam hidup kita
Menorehkan suka cita, duka, maupun kesenangan,...

Tatkala kita merasa sakit...
Anggaplah seseorang telah menorehkan sesuatu (luka)
Di kertas putih itu...

Sebagai manusia,
Sakit hati memang tak terhindarkan
Tapi, lihatlah kertas putih itu...
Meskipun seseorang telah menorehkan luka disana...
Tapi...kertas putih itu tak lagi kosong...
Kini kertas putih itu berisi...
Berisi sesuatu yang berharga...
Sesuatu yang bisa dijadikan pelajaran penting dalam hidup...

Moment tak pernah kembali...

Apapun...
Percayalah...
Tuhan kita Maha Adil...
Yakinlah...
Yang terbaik, hanya untuk kita....


Kebayoran Lama, 2 Juli 2008
21.45 WIB

Blajar Dari Orang Terkaya di Dunia

Semoga bermanfaat,
sekadar forwardan

Warren Buffet Orang Terkaya di DUNIA.......
Tulisan berikut merupakan rangkuman 1 jam wawancara dengan,
Investor Legendaris nomor satu di dunia di CNBC.

Warren Buffet saat ini adalah orang terkaya nomor satu di dunia versi
Majalah Forbes, dengan aset pribadi sebesar $ 62 milyar (setara 619
Triliun rupiah!!!),

Angka ini jelas mengalahkan kekayaan Bill Gates.

Buffet sekaligus filantrop/dermawan nomor satu dunia yang telah
Menyumbangkan lebih dari $ 31 milyar (sekitar Rp. 300 triliun!!!) Dana
Pribadinya untuk sumbangan-sumbangan ...

Berikut 9 aspek kehidupannya yang sangat menarik:

1. Buffet memulai investasi sahamnya pada usia 11 tahun,
Dan IA sangat menyesal memulai investasi saham di usia yang terlambat

2. Dia membeli sebuah lahan pertanian kecil pada usia 14 tahun dari hasil
Tabungannya menjadi loper Koran

3. Dia tetap hidup sederhana dengan gaya hidup yang tidak berubah,
Memiliki rumah dengan 3 kamar tidur kecil di kota kecil Omaha,
Yang IA beli setelah IA menikah 50 tahun yang lalu,
Rumahnya tidak memiliki pagar.

4.Dia mengendarai mobilnya sendiri tanpa seorang sopir ataupun bodyguard
Di dekatnya

5. Dia tidak pernah bepergian menggunakan jet pribadi,
Walaupun IA memiliki perusahaan jet pribadi terbesar di dunia

6. Perusahaannya, Berkshire Hathaway, memiliki 63 perusahaan.
Ia hanya menulis 1 surat setiap tahun ke CEO perusahaan2nya tersebut,
Memberikan mereka tujuan bisnis yang harus dicapai setiap tahunnya. Ia
Tidak pernah mengadakan meeting atau menelepon CEO2 tersebut,
IA hanya memberikan 2 buah peraturan:
1. Rule number 1: Jangan pernah membuat rugi para pemilik saham
2. Rule number 2: Jangan pernah lupa Aturan nomor 1

7. Ia tidak pernah bersosialisasi di klub-klub orang kaya.
Waktu luangnya setelah IA tiba di rumah IA gunakan untuk membuat popcorn,
Dan menonton TV

8. Bill Gates, mantan orang terkaya di dunia,
Tidak pernah berminat untuk menemui Buffet karena tidak melihat adanya
Kesamaan yang mereka miliki, namun 5 tahun yang lalu Bill mencoba membuat
Agenda untuk bertemu dengan Buffet hanya selama 30 menit. Namun meeting
Tersebut justru berlangsung selama 10 jam,
Bill berbincang-bincang lama sekali dengan Buffet.

9. Buffet tidak pernah membawa hanphone,
Maupun PC/laptop di mejanya,

Nasehatnya untuk Anak Muda:

'Stay away from credit cards and invest in yourself and remember:

1. Uang tidak menciptakan manusia. Namun manusia bisa menciptakan UANG....

2. Jalani kehidupan Anda sesederhana diri Anda sendiri. Yang penting diri
Anda NYAMAN...

3. Jangan lakukan apa yang orang lain katakan.
Dengarkan saja mereka, namun lakukanlah hanya apa yang membuat Anda
Merasa nyaman (feel good)

4. Jangan membeli barang karena merknya.
Kenakanlah pakaian yang memang membuat Anda merasa nyaman.

5. Jangan menghabiskan uang Anda untuk barang-barang yang tidak penting.
Gunakanlah uang Anda secara bijaksana untuk kebutuhan yang memang
Benar-benar Anda perlukan.

6. Akhirnya, ini semua adalah kehidupan Anda.
"Hidup ini hanya sekali. Mengapa Anda harus memberikan orang lain
Kesempatan untuk mengatur hidup Anda?. Hiduplah dengan gaya Anda sendiri,
Yang penting Anda senang, Anda puas, Anda nyaman, & Anda bahagia...

Thursday, June 12, 2008

Menjadi Istri Tanpa Syarat

Aku Ingin menjadi Istrimu Tanpa Syarat

Ya Allah, ya Tuhanku....
Cintaku, mutiara hatiku

Aku ingin menikah denganmu
aku ingin jadi istri yang terbaik bagimu
aku ingin membuatkanmu secangkir teh hangat setiap pagi
dan memeluk punggungmu ketika kau lelah

aku tak butuh segala impian materimu, sungguh
aku ingin kita menikah tanpa syarat
cukup karena kita saling mencintai dan berlandas agama
menikah karena ingin beribadah
aku ingin menjadi istri solehah bagimu
kita sholat berjamaah bersama dan mengaji, setelah itu aku
membacakan tilawah untuk kita berdua

aku ingin mengecupmu dikala hujan turun
dan mengusap rambutmu dikala matahari bersinar
aku tau mungkin aku cita-citaku menjadi ibu rumah tangga terlalu
muluk bagimu
mau makan apa kita kalau kau tak kerja?
begitu alasannya

Tapi tahukah kau?
aku hanya ingin menjadi yang terbaik bagimu
tanpa syarat, tanpa ketentuan
akan kucurahkan semuanya
melakukan yang terbaik yang aku bisa

Karena

Aku ingin menjadi istrimu tanpa syarat

Wednesday, May 21, 2008

Gadis Kecil di Bus Kota

Tubuh mungil itu berjalan tertatih...

Rambut kusutnya berantakan

Mata setengah ‘sadar’

Celana krem selutut, kaos merah terang

Tak menjadikan keadaannya tampak lebih ‘layak’


Di dalam bus kota model jepang,

Dari ibukota menuju daerah penyangganya


Beberapa amplop lusuh dalam genggamannya

Satu persatu ia bagikan pada para penumpang bus


Tak ramai saat itu..

Namun cukuplah membuat gadis mungil itu kewalahan

Menjelajahi bus dari depan, hingga ujung belakang


Jalannya sempoyongan

Ditambah lagi laju bus yang tak karuan

Beberapa kali ia nyaris terjatuh karenanya

Namun, berkali-kali itu pula ia mampu bertahan


Miris hatiku mengamati

Si mungil yang tak mampu menyembunyikan kantuknya

Gadis kecil yang seharusnya sudah nyenyak dalam buaian

Justru masih berada di jalan

Mengarungi derasnya kehidupan


Sari, nama gadis mungil itu.

Ia membuat kami terpesona. Aku dan kedua temanku tak habis fikir.

Betapa anak se kecil itu (berusia 4 tahun)

Diatas pukul 10 malam masih mencari nafkah di jalan.

Kantuk yang mendera, tak dihiraukannya. Ku rasa, yang difikirkannya hanya satu: “Tugasku bagi-bagi amplop, sementara kakakku bernyanyi”.


Ya, memang, si mungil tak sendiri.

Eka, sang kakak yang tak kalah imutnya, tak sungkan bernyanyi

Sambil memainkan sendiri gitarnya.

Suaranya boleh juga...

Serak-serak basah, berkarakter, khas Indonesia


Setelah selesai melakukan aksi ‘panggung’ nya,

Si mungil kembali menarik amplop dari para penumpang

Lalu, terjadilah saat itu...

Saat dimana aku diperlihatkan,

Betapa anak kecil, yang ku kira lemah

Ternyata memiliki kekuatan tuk ‘survive’ yang luar biasa


Luar biasa...

Aku dan temanku terkagum dibuatnya

Ketika posisi gadis kecil ini di tengah-tengah bus

Dalam posisi dimana tangannya tak kan mampu

Menggapai sesuatu tuk dijadikan pegangan

Bus berguncang cukup keras

Dan bisa ditebak

Si mungil yang sudah lelah plus ngantuk ini

Semakin sempoyongan saja posisinya


Tapi ditengah guncangan itu

Anak yang terlihat sangat lemah seperti dia

Mampu bertahan

Tanpa berpegang pada apapun

Dia hanya mengandalkan kekuatan kakinya, kurasa...


Beberapa kali terguncang

Miring kanan miring kiri

Nyaris jatuh ke depan & ke belakang

Tapi nyatanya

Dengan sedikit gurat senyum di wajah lugunya

Ia mampu bertahan...


Hingga sang kakak ‘menyelamatkannya’

Dan menariknya ke tepi dekat bangku penumpang


Aku dan temanku terkagum-kagum menyaksikan adegan itu

Sang kondektur bus ikut nimrung

“Yah, namanya juga udah terbiasa dari kecil turun-naik bis”, ujarnya


“Rumahnya dimana, dik?” ujarku

“Di Perumpung,” ujar Eka, sang kakak.


Reflek, ku tak kuasa menahan diri

Tuk membelai lembut kepala mungil itu


Belaian.... Yah... belaian...

Mungkin mereka jarang sekali ya, merasakan belaian di kepalanya...

Sementara kepala mereka selalu di jejali

Pemikiran tuk bertahan hidup di dunia yang keras.... dan tak ramah


Bergelenglah kepalaku...

Tak habis pikir...

Betapa kejamnya dunia ini

Hingga membuat anak-anak ini

Berjuang mengarungi hidup yang begini keras...


Sekitar pukul 22 lewat saat itu...

Di pinggiran Uki...

Bisa disaksikan dengan mata-kepala sendiri

Betapa banyak anak seusia mereka

Masih berada di jalan

Dengan peralatan ‘tempur’ nya

Gitar dan alat musik lainnya...


Sejurus kemudian,

Pemikiran apatis ku mencuat ke permukaan


Ah...Indonesiaku...

Beginilah cerminan bangsaku....


Bekasi, 22 mei 2008

00.50 WIB


-Elfira Rosa J-

Wednesday, May 14, 2008

Memberi & Menerima

"memberi tidak membuatmu jatuh miskin, menerima tidak membuat derajatmu turun"

Salah seorang sahabat menyematkan quote itu di FS nya.
Mengingatkan ku akan "pentingnya ikhlas" dalam melakukan segala sesuatu.

Bunda ku pun sring mengingatkan:
"Secuil saja rasa sombong& riya muncul dalam hati,
Hancurlah semua nilai ibadah yang telah kita lakukan"

Yah... ikhlas... sulit..memang sangat2 sulit...
Tapi Allah Maha Adil, khan..?
Ganjaran atas keikhlasan pun sangat2 besar..
Matematika & logika manusia pun tak sanggup mengukurnya

Memberi & menerima
Selalu bersinergi...
Berjalan beriringan, layaknya pasangan kekasih yang saling mencintai
Tak terpisahkan ruang & waktu

Ketika kita memberi... (memberi apapun itu)
Maka sebagai gantinya kita akan menerima

Memberi,
Cinta, persahabatan, kasih sayang, perhatian, sgala kebaikan..
Kan terasa jauh lebih indah
Tatkala kita memberi, tanpa mengharapkan 'menerima'

Apa yang sudah kita berikan pada orang lain, hari ini...?

Bekasi, 15 Mei 2008
08.30 WIB

Tuesday, April 22, 2008

Ndeso- kasian yah.. ;p

From Milis SMA 1 Bekasi:

"NDESO"

oleh: Ika S. Creech

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand . Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemewahan istana raja-raja negara sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala negara, punya hak prerogatif dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya?

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst.

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju.

Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok

- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
- Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalo perlu jin Tomang jg digandeng

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

Friday, April 18, 2008

4 Tingkatan Derajat orang yang berbicara

1. DERAJAT MULIA -cirinya adalah bila berkata sarat dengan hikmah, tak sia sia, ilmu dan zikir, sehingga apapun yg dibicarakan niscaya membawa manfaat bagi siapapun yang mendengarkannya

2. DERAJAT ORANG BIASA -ciri khasnya adalah sibuk menceritakan peristiwa, heboh segala diceritakan bahkan terkadang lebih banyak bumbu penyedap berbau bohong, kata berhambur banyak tapi miskin dari arti dan makna, sayang memang banyak membuang waktu yang amat berharga tanpa membawa manfaat.

3. DERAJAT ORANG RENDAHAN -cirinya adalah sibuk mengeluh, mencela, menghina, menggerutu, komentar negative untuk apa saja, sulit didengar kebaikan dari mulutnya.. inilah ciri-ciri orang berpenyakit yang mulai kronis hatinya, akan merusak suasana dan menghancurkan amalnya sendiri serta tak disukai orang lain,

4. DERAJAT ORANG DANGKAL - cirinya adalah sibuk menceritakan dirinya sendiri, jasa baiknya, kekayaannya, kedudukannya, amal amalnya tentu maksudnya agar dirinya dihargai, dipuji dan dihormati padahal yang terjadi adalah sebaliknya.. benar benar sebaliknya, hina dina tak berharga. naudzulbillahi min dzalik !!!

by; Aa Gym series..

Tuesday, April 15, 2008

Asma 'ul-Husna

Nama-nama Allah (asma ‘ul-husna):


Nama yang berhubungan dengan Allah ialah;

al-Wahid atau Ahad (Yang Maha Esa), al-Haqq (Yang Maha Benar), al-Quddus (Yang Maha Suci) al-Shamad (Yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya) sedang DIA sendiri tak bergantung kepada siapa pun, al-Ghani (Yang Maha-cukup sendiri) al-Awwal (Yang paling awal), al-Akhir (Yang paling akhir), al-Hayyu (Yang hidup kekal), al-Qayyum (Yang maujud sendiri).

Nama yang berhubungan dengan makhluk Allah ialah;

al-Khaliq (Yang menciptakan), al-Bari (Yang menciptakan ruh), al-Mushawwir (Yang membentuk), al-Badi’ (Yang menciptakan pertama kali).

Nama yang berhubungan dengan sifat cinta kasih Allah (selain sifat Rabb, Rahman dan Rahiim) ialah;

al-Rauf (Yang Maha kasih sayang), al-Wadud (Yang penuh cinta kasih), al-Lathif (Yang lembut hati), al-Tawwab (Yang berulang-ulang kasih sayang-Nya), al-Halim (Yang Maha penyantun), al-’Afuwwu (Yang Maha Mengampuni), al-Syakur (Yang melipat ganjaran), al-Salam (Pencipta perdamaian), al-Mu’min (Yang menganugrahkan keamanan), al-Barru (Yang dermawan), Rafi’ud-Drajat (Yang meninggikan drajat), al-Razzaq (Pemberi rezeki), al-Wahhab (Yang Maha Memberi), al-Wasi’ (Yang melimpah pemberian-Nya).

Nama yang berhubungan dengan keagungan dan kemuliaan Allah ialah;

al-’Adzim (Yang Maha agung), al-’Aziz (Yang Maha perkasa), al-’Aliyyu atau Muta’al (Yang Maha Luhur), al-Qawiyyu (Yang Maha Kuat), al-Qahhar (Yang Maha unggul, al-Jabbar (Yang memperbaiki segala sesuatu dengan kekuatanyang luar biasa), al-Mutakabbir (Yang memiliki kebesaran), al-Kabir (Yang Maha-besar), al-Karim (Yang Maha-mulia), al-Hamid (Yang Maha-terpuji), al-Majid (Yang Maha Jaya), al-Matin (Yang Maha-Kuat), azh-Zhahir (Yang menang), Dhul-Jalali wal-Ikram (Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan).

Nama yang berhubungan dengan ilmu Allah ialah;

al-’Alim (Yang Maha Tahu), al-Hakim (Yang Maha bijaksana), as-Sami’ (Yamg Maha melihat), asy-Syahid (Yang Maha menyaksikan), ar-Raqib (Yang Maha mengawasi), al-Bathin (Yang Maha tahu segala sesuatu yang tersembunyi), al-Muhaimin (Yang menjaga semuanya).

Nama yang berhubungan dengan penguasaan Allah terhadap makhluk ialah;

al-Qadir atau Muqtadir (Yang Maha-kuasa), al-Wakil (Yang mengurus segala sesuatu), al-Waliyyu (Yang melindungi), al-Hafizh (Yang memelihara), al-Maalik (Raja), al-Malik (Yang memiliki), al-Fattah (Yang memutus perkara), al-Haasib atau al-Hasiib (Yang menghitung), al-Mutaqim atau Dhun tiqam (Yang menimpakan pembalasan), al-Muqith (Yang menguasai segala sesuatu).

Nama Allah yang di ambil dari beberapa perbuatan atau sifat Allah yang disebutkan dalam al-Qur’an ialah;

al-Qabidlu (Yang menyempitkan), al-Basithu (Yang melapangkan), al-Rafi’u (Yang meninggikan), al-Muizzu (Yang memberi kehormatan), al-Mudhillu (Yang mendatangkan kehinaan), al-Mujib (Yang mengabulkan do’a), al-Baits (Yang membangkitkan dari kubur), al-Muhsyi (Yang mencatat segala sesuatu), al-Mubdi (Yang memulai), al-Mu’id (Yang mengulangi), al-Muhyi (Yang memberi hidup), al-Mumit (Yang menyebabkan mati), Malikul-mulk (Yang memiliki kerajaan), al-Jami (Yang menghimpun) al-Mughni (Yang memperkaya), al-Mu’thi (Yang memberi), al-Mani’ (Yang menahan atau mencegah), al-Hadi (Yang memberi petunjuk), al-Baqi (Yang kekal), al-Waris (Yang mewariskan segala sesuatu).

Adapun sisa dari 99 asma’ul-husna ialah;

an-Nur (Cahaya), sebenarnya ini bukan nama Allah. Allah Ta’ala di sebut Nur dalam arti Yang memberi cahaya (QS.24:35); ash-Shabur (Yang Maha-sabar), ar-Rasyid (Yang menunjukkan), al-Muqsith (Yang tak berat sebelah), al-Wali (Yang memerintah), al-Jalil (Yang penuh kebesaran), al-’Adlu (Yang Maha adil), al-Khafidlu (Yang memelihara), al-Wajid (Yang maujud), al-Muqaddim (Yang terdahulu), al-Muakhir (Yang terakhir), adl-Diarr (Yang mendatangkan kemalangan), an-Nafi’u (Yang memberi faedah). Masih ada dua sifat Allah yang berhubungan dengan kalam (firman) dan iradah (kehendak).

dari seorang saudari seiman... thanks sist... ;)

Wednesday, April 02, 2008

What a Life...

What a life…

Sudah lama sekali rasanya ku tak akrab dengan dunia luar. Ternyata benar, menghabiskan waktu dirumah, semakin membuat otak ini tumpul dan fikiran menjadi sempit. Yah, sesempit pemikiran ku beberapa bulan ini…
Hingga tibalah hari ini..

Hari ini, kembali ku sadari carut-marutnya Indonesia-ku tersayang… ternyata keadaan di negeri ini tak mengalami perubahan yang berarti, kendati kepemimpinan silih berganti. Tak terasa dampaknya bagi kami-kami “orang biasa” ini, yang tak ikut kecipratan indahnya kebijakan yang diambil orang-orang ‘diatas’ sana.

Dari dalam bus kota (dari Jakarta menuju Bekasi), khayalku tak henti-hentinya memikirkan apa yang terjadi belakangan ini. Disaat suasana politik semakin panas seiring detik-detik akhir pemerintahan rezim saat ini. Semua berebut simpati masyarakat dengan caranya masing-masing, semua berlomba saling menjatuhkan lawan-lawannya secara ‘cantik’.

Beberapa bulan menjadi TV-junkie, mual rasanya menyaksikan betapa para elit politik semakin egois dari hari-ke hari. Pusing rasanya mengingat-ingat bahwa pada dasarnya negeri ini sangat kaya sumber daya alam… Betapa sakit hati ini, menyaksikan saudara se-bangsa di beberapa bagian negeri ini, mengantri ratusan meter, ber jam-jam, berhari-hari, demi mendapatkan maksimal dua liter minyak tanah!!! Pedih hati ini, menyaksikan aparat keamanan ‘perang’ dengan para penerus intelektual negeri ini (mahasiswa-red)… Hati ini seperti disayat-sayat, menyaksikan korban Lumpur lapindo yang semakin ‘berontak’, karena semua milik mereka ludes ditelan lumpur panas…. Kian hari, kebijakan para penguasa kian tak bersahabat dengan rakyat kecil…

Tapi di bagian lain belahan negeri ini… masih banyak orang yang sanggup bergaya dengan mobil mewah, menunjukkan prestise dengan menenteng HP canggih keluaran terbaru, banyak juga yang sanggup dan tega menggerus kekayaan negara demi keuntungan pribadi. Bahkan penegak hukum pun sudah lazim ‘dibeli’!

Jurang kesejahteraan semakin besar… hingga rasanya tak mampu lagi diatasi… Adakah secuil harapan bagi kemakmuran negeri “zamrud khatulistiwa” ini? Akankah terjadi perubahan yang kita nanti? Masih bolehkah kita berharap pada para penguasa negeri ini…???

Bekasi, 02 April 2008

Thursday, January 31, 2008

Jam Piket Organ Tubuh




LAMBUNG

Jam 07.00-09.00 adalah jam piket organ lambung sedang kuat, sebaiknya makan pagi untuk proses pembentukan energi tubuh sepanjang hari. Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum sarapan pagi, perut masih kosong sehingga zat yang berguna segera terserap tubuh

LIMPA
Jam 09.00-11.00 adalah jam piket organ limpa kuat dalam mentransportasi cairan nutrisi untuk energi pertumbuhan. Bila pada jam-jam ini mengantuk, berarti fungsi limpa lemah. Kurangi konsumsi gula, lemak, minyak dan protein hewani

JANTUNG
Jam 11.00-13.00 adalah jam piket organ jantung kuat, harus istirahat, hindari panas dan olah fisik, ambisi dan emosi terutama pada penderita gangguan pembuluh darah

HATI
Jam 13.00-15.00 adalah jam piket organ hati lemah, bila orang tidur, darah merah berkumpul dalam organ hati dan terjadi proses regenerasi sel-sel hati. Apabila fungsi hati kuat maka tubuh akan kuat untuk menangkal semua penyakit

PARU-PARU
Jam 15.00-17.00 adalah jam piket organ paru-paru lemah, diperlukan istirahat, tidur untuk proses pembuangan racun dan proses pembentukan energi paru-paru

GINJAL
Jam 17.00-19.00 adalah jam piket organ ginjal kuat, sebaiknya digunakan untuk belajar karena terjadi proses pembentukan sumsum tulang dan otak serta kecerdasan

LAMBUNG
Jam 19.00-21.00 adalah jam piket organ lambung lemah, sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang sulit dicerna atau lama dicerna atau lebih baik sudah berhenti makan

LIMPA
Jam 21.00-23.00 adalah jam piket organ limpa lemah, terjadi proses pembuangan racun dan proses regenerasi sel limpa. Sebaiknya istirahat sambil mendengarkan musik yang menenangkan jiwa, untuk meningkatkan imunitas

JANTUNG
Jam 23.00-01.00 adalah jam piket organ jantung lemah. Sebaiknya sudah beristirahat tidur, apabila masih terus bekerja atau begadang dapat melemahkan fungsi jantung

HATI
Jam 01.00-03.00 adalah jam piket organ hati kuat. Terjadi proses pembuangan racun/limbah hasil metabolisme tubuh. Apabila ada gangguan fungsi hati tercermin pada kotoran dan gangguan mata. Apabila ada luka dalam akan terasa nyeri

PARU-PARU
Jam 03.00-05.00 adalah jam piket organ paru-paru kuat, terjadi proses pembuangan limbah/racun pada organ paru-paru, apabila terjadi batuk, bersin-bersin dan berkeringat menandakan adanya gangguan fungsi paru-paru. Sebaiknya digunakan untuk olah nafas untuk mendapatkan energi paru yang sehat dan kuat

USUS BESAR
Jam 05.00-07.00 adalah jam piket organ usus besar kuat, sebaiknya biasakan BAB secara teratur

Thursday, January 24, 2008

Di Ambang Batas Kematian

SUPRAPTO GAUTAMA duduk termenung di hadapan sebuah cermin. Diamatinya sosok kurus dihadapannya itu. Sosok yang dahulu digemari banyak wanita cantik itu kini tak lagi memancarkan aura ketampanan. Tubuh itu kini hanya memperlihatkan sesosok pria kesepian, yang tak berdaya. Air mata memenuhi wajah tuanya yang telah keriput di sana-sini.

Di luar rumah kontrakannya yang sempit dan tak terawat, angin berhembus kencang, terdengar beberapa ekor kucing bertengkar hebat di halaman rumah.

Prapto mengamati lebih dalam lagi wajahnya di cermin itu. Bayang-bayang masa lalu kembali menghampiri. Saat itu, dirinya belum mencapai sukses sebagai pengusaha. Ia memulai usahanya dari bawah, didampingi seorang istri yang cukup cantik dan penurut. Ingatannya semakin dalam mengenang masa lalunya....

***

PERJALANAN uniknya dimulai saat Ia ingin meminang seorang gadis. Sebagai laki-laki yang berpenghasilan pas-pasan, bahkan terkadang kurang juga untuk kebutuhan dirinya sendiri, Ia percaya bahwa menikah justru akan membukakan pintu rejeki.

Diantara banyak gadis yang menyukainya, Prapto justru memilih gadis biasa dan sederhana. Sekilas, memang tak ada keistimewaan yang dimiliki gadis itu. Namun, satu hal yang membuat Prapto jatuh hati pada gadis itu, yakni karena Ia mempercayai Prapto dan dapat menerimanya sepenuh hati.

Rini Rismawati, nama gadis itu. Dengan mengucap Asma Allah, Prapto menikahinya. Dengan segala resikonya, pasangan itu membina rumah tangga.

Tahun-tahun awal pernikahan mereka diwarnai dengan perihnya perekonomian pasangan muda ini. Meski begitu, sang istri tetap setia mendukung suaminya dengan berbagai cara. Motiviasi-motivasi diberikan tiada henti. Hingga perjuangan tak kenal lelah itu mulai menampakkan hasilnya.

Pepatah berkata: “Di balik lelaki sukses, terdapat perempuan yang hebat.” Lima tahun setelah biduk rumah tangga dikayuh dengan susah payah, perjuangan itu mulai menampakkan hasilnya. Perekonomian mereka kian membaik. Usaha ampelas kayu yang dirintis Prapto mulai berhasil mendatangkan order banyak dari para pengusaha properti. Ya, hanya bermodal ampelas kayu saja, hidup mereka berubah. Pernikahan mereka pun semakin lengkap dengan lahirnya seorang putera. Mereka menamainnya Gaga Pratama.

Layaknya sebuah pohon, semakin tinggi, semakin kencang angin menggoyangnya. Begitu pula Prapto. Seiring semakin tinggi taraf perekonomiannya, semakin banyak pula wanita-wanita cantik yang menggodanya. Meski sudah tak setampan waktu masih bujang, namun sisa-sisa kharisma itu tetap terpancar dari wajah Prapto.

***

DI KAMAR berukuran 3x3 meter itu, Prapto menangis tanpa suara. Namun kepedihannya sangat dalam. Ia mengamati sekeliling. Hanya kosong dan hampa yang dirasanya, disertai kepedihan yang menyayat hatinya, karena Ia pernah menyia-nyiakan nikmat Tuhan untuknya.

Diamatinya sebuah kasur kecil tanpa seprai, sepasang bantal dan guling yang sudah sangat lusuh, serta satu buah lemari baju plastik yang sudah compang-camping dan nyaris roboh. Di atasnya terdapat sebuah bingkai foto keluarga. Prapto, Rini, dan anak mereka yang masih balita, Gaga. Melihat foto itu, semakin sesaklah tangisnya... Terbayang anak semata wayangnya yang kini mungkin sudah tumbuh menjadi pemuda tampan, seperti dirinya waktu muda dulu. Jiwanya pun berkelana kembali pada masa-masa kelam itu...

***

“Maafkan aku, aku tak kuasa menahan hasrat ini. Dari pada aku berzinah, tolong, izinkan aku menikahinya,” ujar Prapto pada istri yang telah bertahun-tahun setia padanya.

Ya, Prapto meminta izin pada istrinya untuk berpoligami. Bagai sambaran petir di siang bolong, sang istri hanya bisa menangis terisak-isak, tanpa mengerti apa yang menjadi jalan fikir suami yang telah bertahun-tahun hidup dengannya itu. Anak semata wayang mereka yang baru berusia dua tahun, dipeluknya erat-erat. Tetesan air mata sang ibu pun membasahi wajah mungil tanpa dosa itu.

“Apa salahku? Apa kekuranganku? Apakah aku pernah meninggalkanmu meski disaat-saat tersulit dalam hidupmu sekalipun?” Rini akhirnya menjawab dengan tetap terisak.

Prapto hanya terdiam. Ia tidak mengeluarkan jawaban atas pertanyaan istrinya itu.

“Baiklah, kau boleh menikah dengannya, tapi aku akan pergi dari hidupmu, dan anak ini akan ikut bersamaku. Tak perlu kamu mengurusi kami lagi. Kamu tak akan pernah mendengar kabar kami. Silahkan kau bersenang-senang dengan wanita baru mu. Aku tak sudi kau madu!” Ujar Rini dramatis.

Serta merta kemudian, Rini segera membawa beberapa potong pakaiannya, juga pakaian dan barang-barang kebutuhan si kecil. Tanpa berusaha mencegah sedikitpun, Prapto hanya duduk termenung menyaksikan kepergian anak dan istrinya.

Kehidupannya setelah itu, tidak begitu menyenangkan. Setelah pernikahannya yang kedua, perlahan tapi pasti, omset usahanya kian menurun, kemudian tiba juga saat kebangkrutannya. Seluruh harta yang Ia punya, habis untuk membayar hutang. Dan bisa ditebak, istri kedua yang dinikahi Prapto saat Ia sedang kaya raya pun, serta merta menginggalkan dirinya begitu saja. Ya, memang, sudah tak ada lagi yang bisa diharapkan dari diri yang tak setia dengan anak istrinya terdahulu itu.

***

LAMUNAN Prapto buyar dihancurkan oleh suara gelegar petir yang disertai hujan kencang. Dengan sisa tenaga yang Ia miliki, segera ia keluar kamar, mengambil ember dan baskom, dan menaruhnya di beberapa titik dirumah kontrakannya. Sudah menjadi kegiatan rutin bagi Prapto, menaruh ember dan baskom di titik-titik bocor rumah kontrakannya ketika hujan turun.
Setelah selesai merapikan ember dan baskom, ia kembali duduk termenung. Dari dalam, pindah keluar rumahnya. Sengaja Ia melamun di bawah guyuran hujan deras berangin kencang, serta petir yang bersahut-sahutan tiada henti.

Seolah ingin menghukum tubuh rentanya itu, Prapto pasrah. Ia bersujud dibawah guyuran hujan, dan memohon maaf kepada Tuhan, kepada anak serta istri yang telah Ia sia-siakan, dan hingga kini tak bisa Ia temukan, meski hanya untuk meminta sebuah kata maaf. Ia menyesali kebodohannya waktu itu. Ia kembali menangis terisak, dan kali ini air matanya berbaur ditelan air hujan yang deras membasahi wajah tuanya yang kuyu.

Sedetik kemudian, kilatan petir menyambar tubuh ringkih dihalaman rumah kontrakannya yang tak terawat itu. Di tengah kesendirian dan kepedihannya yang mendalam, ajal menjemputnya.

***

ESOK harinya, muncul berita singkat di salah satu Harian Nasional:
“SUPRAPTO Gautama (50), warga RT 05/08 Kecamatan Jati Asih Bekasi, ditemukan tewas di halaman rumahnya, pada Rabu (07/11) sore hari. Diduga Ia meninggal karena disambar petir. Jenazah di bawa warga setempat ke RSCM untuk diautopsi. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada satupun keluarga korban yang menjemput jenazahnya. Warga sekitar juga tidak mengetahui asal-usul pria itu. Oleh warga sekitar tempat tinggalnya, jenazah dimakamkan di TPU yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka.” (ER)

***

DI salah satu sudut Jakarta, seorang wanita membaca berita di koran tersebut sambil terisak. Anak laki-lakinya, menghampiri ibunya dan bertanya ada apakah gerangan. Sang ibu menceritakan kisah yang bertahun-tahun Ia sembunyikan dari anak satu-satunya itu. Kemudian Ia menunjukkan berita di koran harian itu.

Sejurus kemudian, sang anak pun menangis terisak-isak. Kerinduannya akan sosok seorang ayah yang bertahun-tahun Ia dambakan, tiba-tiba memuncak tak terbendung. Sosok sang ayah yang selama ini Ia ketahui telah meninggal dunia, hanya ia saksikan penggambarannya dalam sebuah berita singkat. “Meninggal di usia 50 tahun, tanpa keluarga di sisinya”.

Ibu dan anak itu menangis bersama dalam pelukan penuh air mata. Kemudian mereka memutuskan untuk menengok jenazah suami dan ayah mereka ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Bekasi, 23 Januari 2008

Friday, August 25, 2006

CRYING IN THE RAIN

Everly Brothers

I’ll never let you see
The way my broken heart it hurtin’ you
I’ve got my pride
And I know how to hide
All my sorrow and pain
I’ll do my crying in the rain


If I wait for the cloudy skies
You won’t know the rain from the tears in my eyes
You’ll never know
That I still love you so
Though the heartaches remain
I’ll do my crying in the rain


Raindrops fallin’ from heaven
Could never wash away my mistery
But since we’re not together
I look for stormy weather
To hide the tears I hope you’ll never see


Someday when my crying’s done
I’m gonna wear a smile and walk in the sun
I may be a fool
But till darling
You’ll never see my complain
I’ll do my crying in the rain

Tentang Perkawinan

Sajak ttg perkawinan oleh Prof. Dr. Priguna Sidharta :

Perkawinan
Berarti suatu tantangan yang harus dihadapi,
Suatu perjuangan yang harus dimenangkan
Suatu kesusahan yg harus diatasi
Suatu rahasia yg harus digali
Suatu tragedi yg harus dialami
Suatu kegembiraan yg harus disebarkan
Suatu cinta yg harus dinikmati
Suatu tugas yg harus dilaksanakan
Suatu romantika yg hrs dirangkul
Suatu risiko yg harus diambil
Suatu lagu yg harus dinyanyikan
Suatu anugerah yg harus dipergunakan
Suatu permainan yg menyenangkan
Suatu impian yg harus diwujudkan
Suatu perjalanan yg hrs diselesaikan
Suatu janji yg harus ditepati
Suatu keindahan yg harus dikagumi
Suatu pertanyaan yg harusdijawab
Suatu kesempatan yg harus dipakai
Suatu persoalan yg harus dipecahkan
Suatu kesulitan yg harus dikalahkan
Rahmat yg harus dipelihara dan dicintai

Sumber : buku Bimbingan Seks Suami isteri “pandangan islam dan medis”
Pnerbit : ROSDA

boleh setuju ato enggak setuju dengan seluruh atau sebagian atau beberapa bagian dari sajak itu.
tulis donk komentar kamu....
How Poor We Are... :(

One day, the father of a very wealthy family took his son on a trip to the country with the express purpose of showing him how poor people live.

They spent a couple of days and nights on the farm of what would be considered a very poor family.

On their return from their trip, the father asked his son, "How was the trip?"

"It was great, Dad."

"Did you see how poor people live?" the father asked.

"Oh yeah," said the son.

"So, tell me, what did you learn from the trip?" asked the father.

The son answered:

"I saw that we have one dog and they had four. We have a pool that reaches to the middle of our garden and they have a creek that has no end. We have imported lanterns in our garden and they have the stars at night. Our patio reaches to the front yard and they have the whole horizon. We have a small piece of land to live on and they have fields that go beyond our sight. We have servants who serve us, but they serve others. We buy our food, but they grow theirs. We have walls around our property to protect us, they have friends to protect them."

The boy's father was speechless.

Then his son added, "Thanks Dad for showing me how poor we are."

Isn't perspective a wonderful thing?

Makes you wonder what would happen if we all gave thanks for everything we have, instead of worrying about what we don't have.

Appreciate every single thing you have!
Sahabat adalah…
Seseorang yang bisa diam bersama kita dalam masa keputusasaan,atau kebingungan tanpa menghakimi,tidak menawarkan pemecahan masalah,ketika kita belum siap untuk memecahkannya,dan tidak memotong pembicaraan saat kita ingin bicara.

Sahabat adalah…
Tempat dimana kita bisa mengatakan dengan bahasa apapun,dan pilihan kata manapun,mengeluarkan semua isi hati, beban hidup,melepaskan tangis yang kita tahan,malu yang kita sembunyikan,dan melampiaskan semua hal yang kita pendam.

Sahabat adalah…
Seseorang yang bisa menoleransi ketidaktahuan dan ketidaksembuhan,tidak menyuruh kita berhenti menangis saat kita sedang menangisdan ada bersama kita dalam menghadapi kenyataan atau ketidakmampuan,tanpa melihat siapa kita, siapa teman kita dan apa jabatan kita.

a friend will strengthen you with her prayers,bless you with her love, encourage you with her heart

don’t walk in front of me, I may not follow…
don’t walk behind me, I may not lead…
Just walk beside me, and be my friend…

Thursday, April 20, 2006


Jurnalisme Damai untuk Papua
Oleh Elfira Rosa J

Konfik yang terjadi di Papua bukanlah hal baru, melainkan akumulasi dari konflik yang selama ini tidak diselesaikan dengan baik. Sehingga kerusuhan yang terjadi belakangan, merupakan “bom waktu” yang akhirnya meledak setelah sekian lama aktif, namun tak terdeteksi.

Kerusuhan di Abepura yang menewaskan empat aparat keamanan, 42 warga papua yang meminta suaka ke Australia, dan empat mahasiswa Universitas Cenderawasih yang lari ke Papua Nugini. Rentetan kejaian itu hanya berawal dari rasa keadilan mereka yang tidak terpenuhi oleh Negara.

Sebagai warisan pemerintahan Orde Baru, rakyat Papua memang telah di dzalimi oleh penguasa. Kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan Papua yang kaya sumber daya alam, justru tidak mementingkan kesejahteraan rakyat Papua sendiri. Mereka menjadi kaum tersingkir, kaum budak di negeri sendiri. Sementara yang menikmati kekayaan alam mereka, justru orang luar.

Pemberitaan Papua di Media Massa

“Bad news is a good news”. Bagi media massa, konflik yang terjadi di Papua tentunya memiliki nilai berita yang sangat tinggi. Nuansa politik yang sangat kental, ada “rakyat yang tersakiti”, rusuh, ada korban jiwa, aktual, dan sebagainya.

Masih teringat tayangan adegan kekerasan di Papua yang sangat detail kita saksikan. Terlihat jelas jatuhnya korban, tertangkap langsung oleh lensa kamera, dan tayangan sadis tersebut tersebar ke seluruh pelosok nusantara secara “apa adanya”.

Dengan alasan public right to know dan untuk kepentingan publik, media-media kita berburu cepat memberikan “tayangan ekslusif” secepat dan selengkap mungkin apa yang terjadi di Papua.

Apakah pemirsa di Indonesia sangat-sangat bodoh sehingga media sampai begitu merasa perlunya menayangkan adegan se detail itu? Apakah dengan melihat adegan lempar-lemparan dan kejar-kejaran antara polisi dan pengunjuk rasa tidak cukup menunjukkan bahwa telah terjadi kerusuhan di sana? Pemirsanya yang memang tidak mengerti, atau medianya yang menganggap pemirsa bodoh?

Apakah dengan menyajikan adegan jatuhnya korban tersebut lantas akan membawa manfaat bagi khalayak yang menyaksikannya? Atau jangan-jangan, adengan tersebut hanya akan memancing emosi berbagai pihak.

Menurut Noelle-Neumann, faktor penting dalam media massa yang bekerja sama dalam membatasi persepsi yang selektif yaitu ubiquity (serba ada), akumulasi pesan, dan keseragaman wartawan. Media massa mampu mendominasi lingkungan informasi dan berada di mana-mana. Karena sifatnya yang serba ada, agak sulit orang menghindari pesan media massa. Sementara itu, pesan-pesan media massa bersifat kumulatif. Berbagai pesan yang sepotong-potong bergabung menjadi satu kesatuan setelah lewat waktu tertentu.

Perulangan pesan yang berkali-kali dapat memperkokoh dampak media massa. Dampak ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan. Siaran berita cenderung sama, sehingga dunia yang disajikan pada khalayak juga dunia yang sama. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya dari media massa.

Masalah di Papua tidak hanya saat ini saja, tapi sudah sejak lama. Namun media tidak menyebarluaskan semua masalah yang terjadi di papua. Media menyajikannya secara sepotong-sepotong dan tidak utuh. Yang terjadi kemudian, begitu terjadi rusuh di Papua, secara bombastis media ramai-ramai menyebarluaskannya.

Dampaknya sangat besar bagi rakyat Papua. Masyarakat yang tidak tahu “sejarahnya” akan berfikir bahwa di Papua, orang-orangnya masih sangat primitif, tidak punya sopan santun, tidak berpendidikan, dan segala macam stereotype lainnya.

Masyarakat bukanlah jurnalis, yang tahu seluk beluk suatu berita. Mereka hanya tahu apa yang ada di balik laya kaca. Ketebatasan ruang dan waktu dalam media massa juga menyebabkan semua informasi tidak dapat disampaikan. Ada yang terpenggal. Ketidakadilan yang dialami rakyat Papua, tidak “diangkat” oleh media, se besar dan se bombastis berita tentang kerusuhan yang telah terjadi.

Mendinginkan “Suhu” Papua

Konflik, apapun itu, dimanapun terjadinya, akan senantiasa menjadi berita menarik. Namun, apapun yang menggunakan kekerasan -meskipun mengatasnamakan hak asasi sekalipun- akan selalu menyisakan kepedihan yang sangat mendalam bagi yang mengalami, dan menimbulkan keprihatinan bagi yang tidak merasakannya secara langsung.

Jurnalisme damai pertama kali diusung oleh Johan Galtung, seorang veteran mediator damai kelahiran Norwegia. Di Indonesia sendiri jurnalisme damai baru menjadi wacana sejak terjadi konflik Ambon, kemudian disusul konflik SARA lainnya.

Dalam memberitakan konflik yang terejadi di Papua, wartawan (atau) jurnalis hendaknya perlu memperhatikan frame berita, agenda setting, dan framing konflik yang resolutif. Selain itu perlu juga diperhatikan strategi peliputan di daerah konflik, dengan sebisa mungkin menghindari konflik. Wartawan harus mampu memposisikan dirinya dengan tepat saat meliput konflik.

Jurnalis memang harus melaporkan fakta. Tetapi dalam menyajikan fakta kepada khalalyak, perlu juga mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkan akibat laporan tersebut. Kemana arah yang dimau oleh sang jurnalis atau media? Disinilah “agenda setting” bermain.
Khalayak tidak hanya mempelajari berita-berita dan hal-hal lainnya melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting yang diberikan pada suatu isu atau topik, dari cara media massa memberikan penekanan terhadap topik tersebut.

Kemampuan untuk mempengaruhi perubahan individu merupakan aspek terpenting dari kekuatan komunikasi massa. Topik yang sering dimuat di media massa akan dianggap penting oleh khalayaknya. Jika dalam konflik Papua ini media massa mampu mengangkat isu “perdamaian”, menyajikan betapa kekerasan hanya akan menimbulkan kerugian semua pihak, bahwa bangsa kita harus bersatu dan jangan mudah terpecah-pecah, maka dampak pemberitaan seperti itu pada diri khalayak akan terlihat.

Kekuatan media yang dahsyat selayaknya bisa dimanfaatkan media dan para jurnalisnya untuk mengusung nilai-nilai kebenaran dan perdamaian. Pemberitaan mengenai kekejaman suatu kelompok, atau penyebab jatuhnya korban, hanya akan memancing emosi khalayak, bukan hanya mereka yang dekat dengan wilayah konflik, tapi juga yang berada di luar lingkaran konflik.

Pers memang bukan lembaga suci yang merupakan lembaga perdamaian, namun pers dengan kekuatannya itu mampu mengarahkan persepsi publik. Kekuatan ini memang bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengusung kebenaran, kontrol sosial, dan perdamaian. Di sisi lain, bisa saja pers dimanfaatkan untuk proraganda pihak-pihak tertentu yang ingin melanggengkan kekuasaanya.

Dalam pemberitaan, pers hendaknya berorientasi pada solusi. Pers juga harus mengembangkan rasa empati untuk semua pihak, tidak berpihak kepada pihak manapun. Proaktif mencari cara untuk mengurangi kekerasan. Hindari membingkai konflik melalui perspektif “dua pihak yang berlawanan”.

Pertimbangkan secara matang, apa efek kognitif (berhubungan dengan pikiran atau penalaran), efek afektif (berhubungan dengan perasaan), dan efek konatif (bersangkutan dengan niat, tekad, usaha yang mengarah pada tindakan) yang akan ditimbulkan setelah khalayak mengetahui berita tersebut.

Pemahaman ini sangat penting bagi orang-orang yang berkecimpung di media massa, mereka yang bergiat dalam upaya mengubah sikap dan perilaku khalayak secara manusiawi. Media massa jangan sampai dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang tidak ingin kedamaian terjadi di Papua. Jangan sampai ada pihak-pihak yang senang atas renggangnya hubungan Indonesia-Australia.

Jurnalisme ada untuk memenuhi perannya sebagai “The Fourth Estate”. Jurnalisme bekerja atas dasar kebenaran. Seperti kata Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam ”Elemen-elemen Jurnalisme” , tanggung jawab utama jurnalis adalah pada hati nurani.

Kebenaran memang membingungkan, tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Benar menurut siapa, berdasarkan apa, dan sebagainya. Namun satu hal yang patut selalu di pegang adalah bahwa jurnalis juga bertugas menyuarakan kaum tak bersuara. Rakyat Papua dalam hal ini, kaum tak berdaya, sebagai kaum tertindas di negeri sendiri. Maka, “suarakan” lah hal itu kepada khalayak, agar khalayak tidak hanya tahu kejelekan masyarakat Papua, tapi juga tahu : “Ada apa di balik itu semua?”

Adegan sadis yang disajikan di media massa mungkin saja akan meningkatkan “”gengsi” media yang bersangkutan karena mampu menyajikan gambar yang nyata. Mungkin saja akan meningkatkan rating dan menuai iklan yang banyak, mungkin saja tayangan seperti itulah yang “diinginkan” khalayak. Tapi pertimbangkanlah, apakah hal seperti itu layak disajikan pada khalayak? Apa pentingnya? Apa manfaatnya?

Dengan jurnalisme damai, media menjadi peredam konflik. Beri kontribusi penyelesaian konflik Papua. Tenangkan “air keruh” di Papua. Media massa dapat menjadi mediator yang berada di garda terdepan dalam inisiasi perdamaian konflik Papua.

Lupakan jurnalisme perang (yang lebih tertarik pada konflik, kekerasan, korban yang tewas, dan kerusakan material). Beri tahu “dunia”, bahwa ada begitu banyak manusia di Papua yang sama-sama memiliki hak untuk menikmati kedamaian dan kesejahteraan atas tanahnya sendiri. Jangan biarkan khalayak “membutakan mata” terhadap ketidakadilan yang dialami warga Papua.

Sunday, April 16, 2006


Media Massa Bisa Cegah
Penyebaran Pornografi dan Pornoaksi
oleh: Elfira Rosa J

Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP) mengundang pro-kontra dimana-mana. Agama, seni, kebebasan berekspresi, hak asasi, kerap menjadi “tameng” pihak-pihak yang pro maupun kontra, untuk menghalalkan pendapatnya. RUUnya sendiri, lebih banyak mengatur tingkah laku dan cara pandang manusia terhadap pornografi yang definisinya sangat “kabur”.

Kalau ditelusuri, maraknya aksi pornografi dimana-mana tentunya tak lepas dari peran media massa. Sejak bergulirnya era reformasi, media massa di Indonesia ikut euphoria. Kebebasan media sekarang ini bahkan cenderung kebablasan.

Media massa semakin lama semakin kehilangan idealismenya. Media massa sekarang ini seperti kehilangan “gigi”. Media massa saat ini cenderung lebih tertarik untuk menyajikan apa yang diinginkan khalayaknya, ketimbang apa yang perlu diketahui khalayaknya.

Tayangan-tayangan hiburan di televisi beberapa tahun belakangan, memang mengalami penurunan kualitas jika dilihat dari kacamata moral dan etika. Rok mini, tubuh seksi, pakaian yang memperlihatkan bagian dada dan paha wanita pun sudah bisa dinikmati nyaris setiap hari pada tayangan sinetron. Wanita di eksploitasi. Tubuhnya “dijual” agar tayangan laku dan mendapat rating tinggi, yang ujung-ujungnya mendatangkan pengiklan.

Film Indonesia, yang katanya telah mengalami kebangkitan, semakin “ramai” mengumbar seksualitas dan sensualitas. Semakin marak saja film yang menampilkan adegan ciuman. Aktris-aktrisnya pun tampil seksi, paha dan dada diumbar begitu saja. Sayangnya, film-film seperti itu bahkan lulus sensor. Apa yang terjadi? Apakah ini pertanda telah bergesernya budaya kita?

Beberapa seniman, dengan mengatasnamakan seni, selalu berkata “Ini seni, bukan pornografi” . Mereka berlindung di balik seni yang “agung” , demi menghalalkan karya mereka yang dapat merusak moral. Orang awam mungkin akan berfikir bahwa seni selalu identik dengan seksualitas dan pornografi!

Media seolah telah beralih fungsi, yaitu menjadi sarana untuk mamasarkan produk dan menjual perempuan. Kenyataan yang terjadi, iklan-iklan yang terpampang selalu sarat dengan nilai-nilai seksisme dan eksploitatif. Dalam masyarakat kapitalis seperti sekarang ini eksploitasi dan trafficking terhadap perempuan justru dilakukan dengan lebih vulgar.

Dimana-mana, dengan mudah ditemui majalah-majalah yang memampang foto-foto tubuh perempuan, tayangan di televisi dari mulai iklan sampai sinetron, “menjual” tubuh perempuan. Lagi-lagi perempuan yang dieksploitasi. Lagi-lagi perempuan yang jadi korban.

Seharusnya, media massa yang notabene berfungsi sebagai gatekeeper informasi kepada publik, kembali menyatukan visi, kembali menyamakan persepsi, untuk kembali menjalankan fungsi pendidikan media.

Mungkin “Teori jarum hipodermik” dalam komunikasi massa dianggap sudah kadaluarsa. Publik tidak lagi pasif. Mereka dapat memilih informasi sesuai keinginan dan kebutuhan mereka (Uses and gratifications theory). Namun, tinjaulah kembali kondisi masyarakat kita saat ini.

Khalayak media massa digambarkan seperti pyramid. Khalayak yang berpendidikan, selektif, dan aktif menyeleksi terpaan media, digambarkan berada di puncak pyramid. Hanya sedikit sekali, jika dibandingkan dengan khalayak yang berpendidikan menengah kebawah, tingkat imitasinya tinggi, dan selektifitas yang rendah. Golongan ini berada di dasar pyramid. Sangat banyak.

Dengan kondisi real masyarakat yang seperti ini, teori jarum hipodermik mungkin bisa dibilang masih berlaku. Masyarakat yang “awam” dengan tanpa kuasa, begitu saja menerima terpaan media yang sangat deras setiap harinya. Mau tak mau, jika semua media kompak menyajikan seksualitas, sensualitas, dan pornografi, dalam kedok seni ataupun hiburan, masyarakat pun tak kuasa akan membentuk “realitas” sendiri menurut pemahamannya, akibat tayangan-tayangan media.

Cobalah masukkan dalam “agenda-setting” media, bahwa segala hal yang diinformasikan kepada khalayak, haruslah mendidik. Media, dengan kekuatannya yang dahsyat, seharusnya mampu mencegah penyebaran pornografi dan pornoaksi.

Jika saja media mau introspeksi diri, jika saja media mau memperbaiki diri, maka hal itu akan sangat membantu dalam mengendalikan kerusakan moral yang terjadi di masyarakat.
Kalau semua media kompak untuk tidak menyajikan erotisme, seksualitas, eksploitasi tubuh perempuan, maka lambat laun Production House (PH) pun tak akan lagi memproduksi tayangan-tayangan seperti itu, karena tidak akan diterima di media.

Ada pepatah “semakin dilarang, semakin dicari”. Pornografi tidak akan hilang dengan adanya RUU ini, karena pornografi muncul disebabkan oleh kuatnya seksisme yang berakar dalam budaya patriaki yang diperkokoh oleh sistem kapitalis.

Sistem kapitalis ini juga telah terjadi pada media massa. Konglomerasi media bukanlah rahasia lagi. Satu grup perusahaan media bisa memiliki berbagai jenis media (surat kabar, radio, tv, majalah, dan sebagainya). Hal ini bisa dimanfaatkan dan diambil sisi positifnya. Dengan menyajikan hanya yang berkualitas saja, dengan sendirinya tayangan-tayangan atau informasi yang berkualitas rendah dan mengumbar pornografi dan pornoaksi pun akan berkurang, bahkan bisa saja akhirnya mati!
Ket: ini versi asli artikel sy untuk tugas mata kuliah penulisan artikel. artikel ini dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi Jawa Barat, Rubrik Suara Mahasiswa, Edisi Senin,17 April 2006. (mengalami beberapa editan dari redaksinya).